Prisma

Prospek Repelita III Sektor Pertanian

Di dalam ulasan berikut ini akan dibahas masalah dan prospek pangan, pengairan, pupuk, jaminan harga dan subsidi input, dasar tukar (terms of trade), dan kelembagaan BUUD/KUD.

Penyediaan pangan

Dalam tahun 1979 dan empat tahun berikutnya pangan, khususnya beras, akan tetap menjadi ukuran konduite pemerintah dan masyarakat kita yang amat peka terhadap kejadian yang bagaimana pun kecilnya. Penduduk yang pada tahun 1979 akan berjumlah lebih dari 140 juta itu masih memerlukan beras, jagung, ketela dan sagu sebagai makanan pokoknya. Andaikata diperlukan 120 kg per kapita per tahun ekwivalen beras saja, diperlukan minimal 16,6 juta ton ekwivalen beras. Gejala-gejalanya adalah bahwa konsumsi akan melampaui 120 kg ekwivalen beras, yang berarti harus disediakan lebih dari 16,6 juta ton. Selama pemerintah dan masyarakat masih bersikap seperti sekarang, perpindahan dari konsumsi jagung, ketela, dan sagu ke konsumsi beras akan terus terjadi, yang akan makin memberatkan beban penyediaan beras. Nampaknya masyarakat belum begitu bersungguh-sungguh untuk mengubah menu dari nasi ke bahan makanan pokok lain. Politik harga masih berat berorientasi pada konsumen, kenaikan harga eceran yang tidak seberapa menimbulkan kegelisahan orang-orang kota. Untunglah bahwa selama tahun 1978 ini tidak terjadi pelonjakan harga beras, tidak terjadi serangan wereng hebat, bahkan cuaca pun nampaknya begitu bersahabat dengan petani padi, sehingga produksi padi umumnya menggembirakan.

Kalau kita tengok produksi beras selama Pelita I dan II akan terlihat kenaikan yang menggembirakan, kecuali tahun 1972 dan tahun 1975.

TABEL 1 Produksi dan persentase kenaikan produksi beras 1968-1977.

TahunProduksi juta tonPersentase kenaikan
196811,674,79
6912,257,27
7013,144,41
7113,72-2,99
7213,3110,44
7314,703,95
7415,28-0,59
7515,194,34
7615,850,57
7715,940,79
7817,50

SUMBER: BPS dan Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI tanggal 16 Agustus 1978.

Kenaikan produksi selama Pelita I adalah sekitar 4,7% per tahun, tapi selama Pelita II hanyalah sekitar 3,6%. Jadi baik selama Pelita I maupun Pelita II produksi barang memang naik, tapi kenaikannya makin kecil. Apakah yang telah menyebabkan penurunan tambahan produksi ini? Apakah mungkin hukum kenaikan produksi yang makin kecil mulai bekerja pada produksi padi kita? Produksi total adalah luas panen kali produktivitas per hektar. Selama Pelita II luas panen memang berkurang, dari 8,5 juta hektar pada tahun 1974 jadi 8,38 juta hektar tahun 1977, yang sebenarnya tidak banyak.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan