Menjelang akhir abad delapanbelas. Kepulauan Hindia Belanda hanya dikenal para pengarung lautan dan pedagang-pedagang. Bagi massa rakyat Belanda kepulauan Hindia Belanda hanya dikenal secara samar-samar sebagai het Oosten, Timur, sebuah negeri ke mana para pelaut dan serdadu pergi bila pikirannya telah tiba di jalan buntu bagaimana menyambung hidupnya lagi, atau bila negerinya tidak lagi menghargai kehadirannya. Ke Timur mereka berlayar, dan di Timur mereka berkubur.
Bagi mereka yang berpendidikan lebih baik, juga berlaku hal yang hampir sama; hampir tidak ada penghargaan yang diberikan bagi Timur sampai pertengahan abad kesembilanbelas. Naar het Oosten biasanya menjadi upaya terakhir bagi orang-orang Belanda kelas menengah. Peta bumi Hindia Belanda benar-benar tidak dikenalnya demikian pun penduduknya. Nama-nama tempat di Jawa yang aneh bunyinya bagi kuping-kuping Belanda sering membangkitkan tawa di kalangan anggota parlemen. (Nusantara, Sejarah Indonesia).
Ketika rakyat pribumi mulai mengenal dirinya sendiri dan mulai mengenal siapa penjajahnya dan memberontak terhadap Belanda, Belanda mempergunakan jalan pikiran yang pada dasarnya sederhana yaitu bahwa rakyat sebenarnya penurut. Mestinya ada orang di belakangnya yang mengambil prakarsa, dan itu adalah para pemimpin. Pisahkan pemimpin dari rakyatnya, berantaslah pemberontakannya. Sejak saat itulah timbul tradisi pada pemerintahan Hindia Belanda untuk membuang para pemimpin, kaum nasionalis, kaum ekstremis. Kalau yang dibayangkan adalah pembuangan, maka kembalilah jalan pikiran yang hampir sama di negeri induknya, yaitu dibuang ke luar atau dibuang ke Timur. Yaitu ke luar Jawa, Bengkulu di Sumatera dan lain-lain. Atau ke Indonesia Timur. Lantas menjadi terkenallah sebuah tempat pembuangan yang tidak akan luntur dalam kenangan sejarah yaitu Boven Digul di Irian.
Ke luar (Jawa) atau ke Timur tidak lain mencerminkan kesan nestapa dan kesengsaraan yang menjadi ganjaran setimpal bagi orang hukuman. Kesan yang timbul sebenarnya menyatu dengan kenyataan dari mereka yang berada jauh dari pusat. Yang satu jauh dari pusat negara induk jajahan, yang lain adalah yang berada jauh dari ibu kota. Dan duanya jauh dari pusat di mana kekuasaan dan harta telah menjadi satu. Di mana ada kekuasaan di situ ada harta. Dan sebaliknya di mana harta di situ kekuasaan. Kesimpulan lurus dari sana adalah bahwa yang berada di luarnya menjadi sarang nestapa yang hanya layak menjadi tempat buangan.
Yang menjadi soal dan dipersoalkan adalah pusat. Karena itu pusat dibuat menjadi gemerlapan dan bukan wilayah di luarnya. Kegemerlapan bisa dibagi. Karena itu dibuat lagi pusat-pusat yang lebih kecil yang disebut pusat wilayah pembangunan. Dan membengkaklah Jakarta menurut jalan pikiran yang sama dan akan disusul oleh pusat-pusat yang lebih kecil. Makanya tidak heran kalau Hendra Esmara menghitung bahwa di tahun 1978 pendapatan per kepala di Nusa Tenggara Timur sebesar Rp. 55.037. Sementara itu tingkat pendapatan per kepala di Jakarta mencapai Rp. 182.337. Tidak heran kalau pusat semakin menarik, dan daerah semakin ditinggalkan. Juga tidak heran kalau semua lari ke pusat dan timbul semacam arus sentripetal yang tak tertahankan masuk ke Jakarta dan mungkin juga ke pusat-pusat yang lain.
Namun disadari bahwa keseimbangan terganggu bilamana gerak itu dipertahankan. Karena itu senantiasa ada usaha untuk membalik arus tersebut menjadi arus sentrifugal, mengembalikan orang kembali ke pesisir, ke luar dari pusat. Program yang sering ditawarkan adalah transmigrasi. Namun apakah mungkin? Jumlah yang mengalir masuk Jawa tidak pernah lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang ke luar pulau Jawa. Namun transmigrasi tetap dilihat sebagai kunci keseimbangan.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah trasmigrasi mampu menjadi arus balik selama pembangunan daerah tetap ketinggalan dibandingkan dengan pusat, selama pembangunan di Jawa semakin jauh bedanya dengan di luar Jawa? Atau kapan tiba saatnya di mana daerah bukan menjadi tempat buangan?