Ada pendapat yang bertubi-tubi dilontarkan bahwa teori politik kini mengalami kemunduran, bahkan sudah mati sejak puluhan tahun. Isyu kemunduran dan kematian itu sebenarnya terlalu dibesar-besarkan. Dewasa ini teori politik justeru sangat subur, tidak hanya orisinal dan penting melainkan juga tetap berada dalam tradisi teori politik klasik. Hanya terjadi pergeseran-pergeseran sangat penting, pergeseran perhatian, pergeseran pendekatan, pergeseran titik berat. Tulisan ini akan membahas sifat dan sebab pergeseran-pergeseran tersebut.
Tiga pendorong untuk pemikiran politik
Teori politik klasik adalah campuran berbagai macam penelitian atau pemikiran. Ada tiga macam dorongan yang berbeda-beda untuk mengadakan penelitian atau pemikiran politik: filosofikal, sosiologikal dan ideologikal. Akan kita renungkan dorongan yang ketiga yaitu ideologikal. Tetapi perlu dikatakan lebih dahulu sesuatu tentang ketiga-tiganya.
Dorongan filosofikal
Pemikiran politik Plato, Hobbes, Locke dan Hegel adalah filosofikal. Mereka menghubungkan kongklusi mereka sekitar organisasi atau sasaran politik dengan suatu sistem filosofikal yang lebih luas. Mereka menarik kesimpulan politik dan sosial dari keyakinan yang lebih luas sekitar koderat realitas. Segala bidang realitas, termasuk bidang politik, mempunyai sejumlah segi pokok atau kategori bersama. Segala bidang realitas dapat dibicarakan dalam satu bahasa logikal yang sama. Pendek kata kongklusi politik ditarik dari atau ditopang oleh prinsip logikal dan metafisikal yang lebih umum. Sekarang ada kesan bahwa teori politik mengalami kemunduran. Yang menimbulkan kesan itu ialah kenyataan bahwa banyak filsuf dewasa ini tidak berpikir seperti Plato, Hobbes, Locke ataupun Hegel. Secara tegas mereka berpendapat bahwa “kebenaran” atau “rasionalitas” suatu organisasi ataupun kebijaksanaan tidak dapat ditarik sebagai kesimpulan dari prinsip-prinsip logikal dan metafisikal yang universal. Jelas mereka mempunyai teori politik, hanya berbeda, lebih sesuai dengan perubahan zaman.
Bentuk khas hubungan tradisional antara filsafat dan politik, berdasarkan konsepsi tugas-filsafat. Tugas filsafat ialah menunjukkan apa yang ada bersama dalam politik dan dalam filsafat. Sudah barang tentu apa yang bersama ada itu merupakan titik tolak perhubungan yang maha penting antara politik dan filsafat. Misalnya atomisme filosofikal menopang individualisme sosial; dialektik dan universal kongkrit Hegel adalah sangat penting baik dalam teori sosial maupun dalam sistem filsafatnya; teori politik pluralisme politik ditunjang oleh kritik yang dikembangkan oleh Williams James melawan monisme filosofikal.
Dorongan sosiologikal
Tetapi banyak teori politik tidak filosofikal dalam arti tersebut di atas. Graham Wallas ataupun de Tocqueville misalnya membicarakan masalah-masalah yang dibicarakan para filsuf politik; tetapi pandangan mereka tidak secara sistematikal berhubungan dengan suatu sistem filosofikal.1 Banyak tulisan de Tocqueville sebaiknya disebut sosiologikal: ia membuat generalisasi, termasuk generalisasi kausal, sekitar tingkahlaku fenomena sosial; demikian pula halnya dengan Bagehots ataupun Maines. Bahkan tulisan-tulisan filsuf politik dalam arti kata yang lebih teknikal pun mengandung banyak generalisasi sosiologikal; contoh terkenal adalah Hobbes. Tetapi sudah barang tentu filsafat politik adalah bapaknya sosiologi zaman sekarang. Tambahan pula tidak dapat disangsikan bahwa perkembangan sosiologi sebagai ilmu yang khas dan keras besar pengaruhnya kepada pemikiran politik dewasa ini.
1 P.H. Partridge dalam Antony Quinton (ed.), Political Philosophy, 1968, halaman 46.