Ada suatu analogi dalam dunia diplomasi internasional: “Bila dua gajah berkelahi, semut-semut di sekitarnya bakal hancur”. Memang, Amerika dan Uni Soviet — yang disimbolkan sebagai gajah — belum pernah terlibat suatu perang langsung dan karena itu kekhawatiran negara-negara kecil akan adanya suatu perang nuklir yang menghancurkan umat manusia, belum terbukti. Namun kekhawatiran itu beralasan sekali, karena menyangkut eksistensi dan kelangsungan hidup mereka.
Tetapi jangan lupa “bila dua gajah bercinta, semut-semut di sekitarnya juga akan hancur”.
Maka persoalannya bukan cuma sekedar menghindari terseret ke dalam medan magnit dua kutub kekuatan itu sambil berteriak-teriak tentang “perdamaian dunia” atau sembari membentuk wadah baru yang “non-aligned”. Seperti semakin jelas, semangat non-aligned yang bergemuruh di dada Soekarno, Naser, Nehru, Nkrumah dan Tito awal tahun 1950-an, kini semakin luntur. Semangat seperti itu nampak tak lagi realistis di tengah-tengah tatanan internasional dewasa ini.
***
Lalu muncullah regionalisme sebagai salah satu alternatif. Kedekatan geografis, keterikatan politik dan fungsionalisme ekonomi menjadi alasan bagi pembentukan wadah kerjasama regional dan ini dianggap lebih efektif mewujudkan kepentingan negara-negara anggotanya dan karena itu pula dianggap lebih realistis.
Tetapi regionalisme bukan fenomena baru di dunia, juga di kawasan sekitar, kita Asia dan Pasifik. Maka kita bisa belajar dari sejarah. Tahun 1914, Pangeran Okuma dari Jepang telah membentuk Persatuan Pan Asia. Pada waktu yang sama ada pula Perkumpulan Lautan Teduh (baca: Pasifik). Dan sejarah mencatat dengan jelas, tidak semua anggota dapat memanfaatkan wadah itu secara merata. Artinya ia mungkin hanya memberikan manfaat yang nyata bagi salah satu anggota saja, sementara manfaat bagi yang lainnya tidak begitu jelas. Atau, wadah seperti itu menjadi sekedar perpanjangan tangan kekuatan-kekuatan besar di luar dirinya.
“Persatuan Pan Asia” yang didirikan Pangeran Okuma tahun 1914 itu, juga tak lebih dari wadah bagi ambisi politik ekspansionis Jepang waktu itu. Apakah Jepang masih memiliki ambisi yang sama di sekitar kawasan ini? Sukar dijawab.
Tetapi yang jelas, asumsi bahwa Jepang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika di wilayah ini setelah berakhirnya Perang Vietnam, nampak semakin menjadi kenyataan. Dari segi ekonomi, kehadirannya di kawasan ini bahkan telah dinilai sebagai “economic over presence (kehadiran yang berlebih-lebihan secara ekonomik).
***
Kini, hampir tujuh puluh tahun setelah gagasan Pangeran Okuma, di sekitar kawasan ini terdapat beberapa wadah kerjasama regional seperti South Pasific Council, ASEAN, Pasific Basin dan mungkin yang lain lagi. Untuk saat ini, ASEAN nampak begitu menonjol. Sebagai anggota ASEAN, kita barangkali boleh berbesar hati. Sebagai wadah kerjasama regional, ia bahkan dianggap terbaik setelah Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC).
Tetapi setelah limabelas tahun usianya kini, benarkah ASEAN sudah memberi manfaat yang merata bagi semua anggotanya ataukah bermanfaat hanya bagi salah satu anggotanya saja? Dan yang lebih penting lagi, sudahkah ia menampakkan citra kemandiriannya?