Ada dua jenis kegiatan yang paling sering dikembangkan untuk menyalurkan kelebihan energi kaum remaja: olahraga dan kesenian. Tapi, menurut Julius R. Siyaranamual, pengembangan apresiasi tersebut tak pernah sampai pada konsepsi-konsepsi seni budaya, masalah nilai atau estetika – yang justeru merupakan sentral dari apresiasi itu sendiri. Ia tidak mendukung pengembangan seni budaya itu sebagai suatu tanggungjawab sosial. Padahal, dalam usia remaja itulah munculnya semacam kehausan mengenai hal-hal yang sifatnya dalam dan hakiki, seperti agama dan filsafat.