Suatu Usha Pendahuluan Untuk Memahami Persoalan Sekitar ‘Generation Gap’
I
Akhir-akhir ini muncul suatu mode, yaitu berbicara sekitar “generation gap” atau kesenjangan angkatan. Seperti dari judul dapat disimpulkan, tulisan inipun merupakan suatu usaha pendahuluan untuk memahami persoalan yang kompleks itu.
Untuk memulainya, penulis teringat akan ungkapan yang mengatakan bahwa “para pelajar adalah kaum sosialis, dan para lulusan adalah kaum kapitalis”. Ucapan yang sering terdengar di kalangan perguruan tinggi di Barat itu sudah tentu haruslah difahami dari yang tersirat, bukan yang tersurat. Sebab yang dimaksudkan dengan perkataan pelajar dan lulusan tidak lain ialah berturut-turut orang muda dan orang dewasa. Sedangkan perkataan sosialis dan kapitalis hanyalah digunakan dalam hubungannya dengan kesan radikalisme dan konservativisme. Dan ungkapan itu sekedar menunjukkan adanya kewajaran yang sederhana dalam gejala kemasyarakatan yang sering disebut sebagai “generation gap“
Memang cukup aneh bahwa meskipun seorang ayah merasakan ketidak-pastian yang eksistensiil daripada kehidupannya sendiri, tetapi biasanya ia toh menginginkan agar anaknya kelak tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat yang pada dasarnya sama dengan masyarakat dimana ia sekarang sedang berada. Dalam masyarakat dengan tempo perubahan sosial yang rendah terdapat keyakinan umum bahwa apa yang cukup baik untuk kakek adalah dengan sendirinya cukup baik pula untuk ayah, diri sendiri dan anak-cucu. Perubahan masyarakat yang lambat tidak berpengaruh kepada bentuk-bentuk hubungan antar generasi. Atau kalaupun berpengaruh, hal itu kecil saja dan tidak begitu berarti. Dalam masyarakat serupa itu kelangsungan hubungan antar angkatan terpelihara dengan baik.