Prisma

Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifudin

Rasanya tak perlu saya gambarkan terlalu banyak tentang Angkatan 28. Diketahui sekarang, bahwa dalam STOVIA telah timbul beberapa organisasi pemuda daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Minahasa dan sebagainya. Semula organisasi itu bercorak kedaerahan, tetapi lama kelamaan kontak antara mereka, juga dengan cabang-cabang mereka di seluruh nusantara mulai nampak, dan tahun 1926 ada usaha untuk menggabungkan organisasi-organisasi pemuda daerah itu. Tetapi rupanya waktunya belum tiba; masih ada kecurigaan dari daerah-daerah terhadap kemungkinan dominasi mereka yang berasal dari Jawa, mengingat jumlah mereka ini memang besar.

Saatnya baru menjadi matang pada tahun 1928, terutama karena pimpinan pusat organisasi-organisasi pemuda itu umumnya berada di Jakarta dan dikuasai oleh mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Perkumpulan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Untuk diketahui, waktu itu apa yang disebut “pelajar” sama artinya dengan mahasiswa sekarang. Mereka yang belajar di sekolah lanjutan seperti MULO, AMS, HBS, biasanya disebut “murid” dengan menambahkan nama sekolah di belakangnya.

Begitulah pada Kongres Pemuda II (1928) dilahirkan ikrar untuk bersatu. Lahirlah Sumpah Pemuda, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan pengakuan Merah Putih sebagai bendera Indonesia. Semua perkumpulan pemuda akan dibubarkan dan akan dilebur dalam suatu fusi. Organisasi Pemuda Indonesia yang semula menganggap dirinya sebagai wadah persatuan pemuda daerah, akhirnya mengalah juga dan ikut melebur dirinya dalam Indonesia Muda.

Dengan demikian, mulai 1928 itu corak perjuangan pemuda berubah: dari corak kedaerahan menjadi corak kebangsaan.

Sebenarnya yang dinamakan Angkatan 28 itu berasal dari tiga tempat: Negeri Belanda (Perhimpunan Indonesia), Bandung (Studiclub) dan Jakarta (Perkumpulan Pelajar Pelajar Indonesia). Tentu saja yang saya maksudkan adalah “inti” dari Angkatan 28.

Dalam Perhimpunan Indonesia, kita kenal nama-nama Datuk Nazir Pamoentjak, Nazief, Mohammad Hatta, Soekiman, Budiarto, Sartono, Soenario, Iskaq, Samsi, dan lain-lainnya. Yang berasal dari Bandung antara lain Sukarno dan Anwari. Sedang yang berasal dari Jakarta, yang jumlahnya lebih besar, adalah Mohamad Yamin, Amir Sjarifudin, Assaat, Wongsonegoro, Abbas, Suwirjo, Reksodiputro, Tamzil, dan banyak lagi.

Dalam hubungan ini saya akan membicarakan salah satu kelompok dalam Angkatan 28 itu, yakni kelompok Indonesia Clubgebouw (IC) di Kramat 106, yang sekarang disebut Gedung Sumpah Pemuda. Memang di sanalah Sumpah Pemuda itu pertama kalinya diucapkan. Kelompok ini antara 1928 dan 1931 terdiri dari mahasiswa-mahasiswa senior berbagai Sekolah Tinggi dan STOVIA (tingkat 7 ke atas). Di gedung ini sering berkumpul juga mereka yang dari Bandung, seperti Bung Karno, atau mereka yang telah tamat belajar, seperti Sartono dan Soenario.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan