Prisma

Rezim-rezim Developmentalis Represif di Asia: Kekuatan Lama, Kerawanan Baru

Pembangunan dan strategi pembangunan ternyata tidak memberikan hasil dan akibat secerah harapan yang diberikannya sejak tahun-tahun 1960-an. Dari banyak penelitian terbukti bahwa keberhasilan pembangunan sejalan dengan meningkatnya kekerasan dan otoritarianisme. Herbert Feith mencoba mengkaji perkembangan semacam itu di negara-negara Asia. Apakah ada perkembangan dan kecenderungan perkembangan itu di Asia? Banyak kritik disampaikan kepada penulis ini, tetapi di sini telah dibuat suatu percobaan awal.

Dalam pertengahan pertama tahun 1979 tiga di antara tiran-tiran abad ke-20 yang paling buruk telah digulingkan, yaitu Pol Pot, Shah Iran dan Idi Amin. Kemenangan populer memang dapat dirayakan, tetapi ada juga alasan-alasan serius untuk bersikap ragu. Sebab, dua dari ketiga tiran tersebut terutama digulingkan oleh penyerbu dari luar. Terlebih lagi, satu di antara penyerbu tersebut, yaitu Vietnam yang menyerbu Kamboja, telah memainkan peranan penting dalam membawa kita ke tubir perang dunia, dan telah membuat Kamboja menjadi medan pertempuran untuk apa yang mungkin sekali akan menjadi perang tak langsung gaya perang Spanyol yang berlarut-larut. Maka jelas sekarang sudah waktunya untuk menyusun pemikiran yang sistematis mengenai politik internasional dari rezim-rezim yang represif.

Dalam makalah ini saya mencoba melakukan survai tentang satu jenis rezim represif di dalam satu kawasan dari Dunia Ketiga, yaitu Asia. Saya tidak mengatakan bahwa bentuk represi yang menandai rezim-rezim “pembangunan represif” (represif-developmentalist) yang saya maksudkan lebih menjijikkan daripada jenis-jenis lainnya yang tempatnya dalam penggolongan sementara saya sendiri (hanya Dunia Ketiga) saya tunjukkan dalam Tabel 1. Yang saya memang maksudkan ialah bahwa bentuk rezim yang ini patut diberi tempat sentral dalam pembahasan mengenai represi sebagai gejala dunia, dan dalam pembahasan tentang tatahubungan antara inti dan permukaan di dunia non-Komunis.

Makalah ini lahir dari suatu perhatian yang lebih baru terhadap Brasil, Iran dan Korea Selatan, tiga negara yang cukup besar di mana satu bentuk rezim telah berkuasa selama 15 tahun ini, dan yang pertumbuhan ekonominya sangat laju.

Saya ingin mengajukan pendapat bahwa Brasil di bawah para Jenderal, Iran di bawah Shah, dan sampai batas lebih sempit Korea Selatan di bawah Park, merupakan contoh terbaik dari suatu arah-gejala dalam politik dunia yang melahirkan sesuatu yang baru. Indonesia di bawah Suharto, Filipina di bawah Marcos dan Singapura di bawah Lee Kuan Yew, termasuk di antara rezim-rezim Asia yang bergerak dalam arah serupa. tetapi ketiga negara ini merupakan contoh yang tidak begitu jelas dari tipe tadi. Taiwan, Muangthai, Bangladesh, dan Pakistan, semua memiliki satu atau lain segi persamaannya dengan bentuk rezim yang saya bahas, tetapi saya tidak ingin memasukkan keempat negara itu dalam pembahasan ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan