Pauline Dublin Milone. Queen City of the East: The Metamorphosis of a Colonial Capital. Ann Arbor, Michigan: University Microfilms Inc., 1966, xii + 607 halaman.
Dalam masa pembangunan ini Jakarta dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi, hotel-hotel dan tempat hiburan. Semua dianggap hebat dan modern. Tetapi masih banyak bemo yang berasap tebal dan mengotori mata. Kampung-kampung miskin masih terdapat di sana-sini, dan ada pula tuna susila di steambath serta orang tanpa susila di kantor. Bagi penghuni Jakarta dan pendatang tahun 1977 ini kehidupan kota merupakan kehidupan yang tak mengenal waktu. Nampaknya mereka hanya memikirkan hidup hari ini saja, hari kemarin sudah terlupakan, dan besok masih dalam mimpi. Dalam bukunya yang berjudul Queen City of the East, Pauline Dublin Milone menganjurkan kita untuk mengenal Jakarta dan menengok kembali riwayat nenek moyang kita yang pada masa silam terdorong pindah ke daerah beting Kali Ciliwung.
Buku ini sebenarnya disertasi Milone untuk meraih gelar Ph. D pada Fakultas Sejarah, Universitas California di Berkeley pada tahun 1966. Sepanjang pengetahuan saya buku ini belum tersebar secara luas karena belum diterbitkan. Sayang buku semacam ini belum dipublisir. Di dalamnya banyak sekali terdapat bahan yang penting, baik untuk ilmiawan dan mahasiswa maupun pejabat serta masyarakat Jakarta pada umumnya. Pendahuluan buku berisi teori sejarah dan sosiologi yang mungkin membosankan pembaca yang tidak berminat dalam bidang ini. Sikap kita waktu membaca bagian ini seperti bermalam Minggu di kota, hanya melihat-lihat saja selintas, tidak perlu menunggu lama. Sesudah bab mengenai teori, mulai diceriterakan dengan jelas tentang kota pelabuhan asli yang ada di kepulauan Indonesia sebelum kedatangan orang Eropa. Fungsi utama kota-kota tersebut adalah perdagangan. Pelabuhan di pantai merupakan pintu masuk bagi barang-barang yang berasal dari Cina, India, dan Negeri Arab. Kota pelabuhan merupakan tempat untuk saling mengenal bagi puluhan suku bangsa yang akan berjual-beli.1¹ Dengan demikian pedagang-pedagang asing tidak perlu datang ke ibukota kerajaan di pedalaman sehingga keamanan bagi kerajaan lebih terjamin.
1 Adanya kota pelabuhan Jakarta memberikan keuntungan bagi kerajaan yang berpusat di pedalaman, karena secara tidak langsung kerajaan ini dapat menerima barang dari luar.