Prof. Dr. Slametmulyana, Dari Holotan ke Jayakarta, (Jakarta: Yayasan Idayu, 1980), 84 halaman.
Ketika laskar Belanda dibawah Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta (Jakarta) dari tangan Kerajaan Banten tanggal 30 Mei 1619, nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Nama Batavia lenyap ketika Pemerintah Pendudukan Jepang tanggal 9 Desember 1942 menyatakan dikembalikannya nama Jakarta. Fakta-fakta di atas tertulis dalam dokumen-dokumen historis yang tak terbantah. Yang menjadi masalah: bilakah kota Jakarta itu berdiri?
Pada tahun 1954, atas saran Walikota Jakarta Sudiro, Dr. Sukanto menyiarkan hasil penelitiannya dalam buku yang berjudul Dari Djakarta ke Djajakarta.1 Menurut Dr. Sukanto, setelah laskar Demak menduduki bandar Sunda Kelapa dan menghalau armada Portugis, Fatahillah (Faletehan) mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Sukanto itu, Dewan Perwakilan Kota Djakarta Raja pada tanggal 23 Februari 1956 menetapkan “22 Juni sebagai hari lahir Jakarta”.2
Buku karya Prof. Slametmulyana yang kini kita bicarakan membuka perspektif baru dalam penelitian sejarah ibukota negara kita. Pengarang bukan saja mempertanyakan teori “22 Juni” Dr. Sukanto, tetapi juga mengajak para pembaca bertamasya di taman sejarah wilayah di sekitar Jakarta, menyaksikan timbul dan tenggelamnya beberapa negara di wilayah sekitar Jakarta (halaman 6). Ternyata banyak pemandangan indah menawan hati yang belum kita jumpai dalam tamasya-tamasya sejarah yang lain. Itulah sebabnya ajakan tamasya Prof. Slametmulyana terlalu sayang untuk dilewati begitu saja.
Uraian bekas Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu terdiri atas enam bab: Ho-lo-tan; Di Mana Letak Ibukota Tarumanegara?; Timbulnya Kerajaan Mo-ho-hsin; Negara Sunda; Timbulnya Jayakarta; Dari Batavia ke Jakarta.
Dalam bab pertama pengarang mengidentifikasi nama negeri Ho-lo-tan yang tercantum dalam berita-berita Cina. Kronik Liu-sung-shu (Sejarah Lama Dinasti Sung) memberitakan bahwa Ho-lo-tan terletak di She-po (transliterasi dari nama Jawa), dan mengirim utusan ke negeri Cina pada tahun 430, 433, 434, 436, 437 dan 452. Menurut pengarang, Ho-lo-tan adalah transliterasi dari nama Aruteun, daerah di tepi Ciaruteun, kecamatan Ciampea, tempat ditemukannya prasasti berpahatkan telapak kaki Purnawarman, raja Tarumanegara (halaman 12). Demikianlah kerajaan Aruteun merupakan kerajaan tertua di Jawa. Adanya prasasti Purnawarman itu dijadikan alasan oleh pengarang untuk berpendapat bahwa Kerajaan Aruteun ditaklukkan oleh Kerajaan Taruma. Kerajaan Taruma (disebut dalam kronik Cina: To-lo-mo) mengirim utusan ke Cina tahun 528, 535, 666 dan 669. Atas dasar ini pengarang menyimpulkan bahwa penaklukan Aruteun oleh Taruma berlangsung antara 452 dan 528 (halaman 16). Pendapat di atas sama dengan pendapat W.J. van der Meulen dari IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam majalah Indonesia tahun 1977 terbitan Universitas Cornell, Van der Meulen juga mengemukakan bahwa Ho-lo-tan transliterasi dari Aruteun, dan “Ho-lo-tan was destroyed by Taruma”.3
Penulis tinjauan buku ini justeru berpendapat bahwa Aruteun (Ho-lo-tan) dan Taruma (To-lo-mo) adalah kerajaan yang satu. Dari data arkeologi, kerajaan tertua di Jawa yang kita ketahui sampai saat ini adalah Taruma. Kerajaan di She-po (Jawa) yang mula-mula tercatat dalam kronik Cina adalah Ho-lo-tan. Ada kemungkinan nama asli Kerajaan Taruma adalah Aruteun. Sesudah menerima pengaruh budaya India pada akhir abad kelima, nama Aruteun berubah menjadi Taruma. Nama Taruma diambil dari toponim di India Selatan. Hilangnya nama Ho-lo-tan dan munculnya nama To-lo-mo dalam kronik Cina kiranya erat hubungannya dengan pergantian nama itu. Seperti diakui oleh pengarang, pergantian nama tempat adalah peristiwa biasa dalam sejarah (halaman 37). Jika pendapat ini benar, maka daerah Ciaruteun tempat prasasti yang berpahatkan telapak kaki tidak selalu harus ditempatkan di daerah taklukan. Mungkin saja prasasti semacam itu juga ditempatkan di ibukota kerajaan. Sebagai analogi, prasasti persumpahan Sriwijaya yang umumnya ditempatkan di daerah taklukan, ternyata dipasang juga di ibukota (prasasti Telaga Batu di Palembang).
1 Dr. Sukanto, Dari Djakarta ke Djajakarta, (Djakarta: Penerbit Soeroengan, 1954). Uraian mengenai tanggal berdirinya Jakarta, lihat halaman 58-60.
2 Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat. “Hari Lahirnya Djajakarta,” Bahasa dan Budaja, V(1), 1956, halaman 3.
3 W.J. van der Meulen, “In Search of Ho-ling”, Indonesia, No. 23, Cornell Modern Indonesia Project, Ithaca, April 1977, halaman 103-104.