Tidak pernah dalam sejarah peradabannya, manusia membuktikan dan membanggakan kemampuannya di segala bidang seperti abad ini. Salah satu di antaranya adalah bidang teknologi. Tidak pernah dalam sejarahnya teknologi mencapai ketinggian puncak prestasi seperti zaman ini pula. Akan tetapi berbarengan dengan itu tidak pernah ada sebuah kata yang begitu menguasai perbendaharaan bahasa dalam kebudayaan zaman ini daripada kata krisis. Hal ini pun tidaklah menunjukkan lain daripada tumbuhnya suatu kesadaran akan adanya pilihan-pilihan yang menentukan hidup atau mati. Kesadaran bahwa manusia berada di simpang jalan menuju dua kemungkinan pilihan “atau … atau …” Pilihan semacam itu senantiasa mencemaskan dan menakutkan. Dia harus memilih antara: berlangsungnya kehidupan atau bencana.
Satu hal yang menjadi kecemasan yang menentukan dalam hal ini adalah energi dan pasangan utamanya, yaitu teknologi yang dipakai dalam dunia industri. Industrilah pemakan energi yang tidak tertandingi. Bilamana nafsu konsumsi energi dalam industri tidak terkekang maka semua sumber energi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama akan habis terkuras. Maka di saat manusia menepuk dada di puncak tertinggi keberhasilannya, di puncak yang sama juga manusia mengalami kegagalannya. Dan kegagalan tersebut adalah akibat langsung dari suatu keberhasilan yang juga menjadi langkah pertama menuju bencana. Maka bermunculanlah prophetae calamitatis, nabi-nabi peramal bencana. Dan di antaranya Club of Rome menjadi terkenal sebagai nabi kolektif peramal kebinasaan: Bila tingkat konsumsi berjalan setinggimasa kini, maka dalam tempo seratus tahun seluruh sumber energi habis terkuras. Lantas berulang kali datang kembali paradoks dalam hidup: bencana yang datang bukan karena kelemahan akan tetapi karena kekuatan. Bencana yang datang bukan karena kegagalan tetapi karena keberhasilan. Dan bilamana orang kuat yaitu manusia dalam masyarakat industri menyadari keterbatasan biasanya dia lantas menjadi romantis. Hitler berbicara tentang cinta dan keindahan di saat dia menghancurkan kota-kota dan menghabiskan nyawa manusia. Romantisme semacam itu muncul dalam tekad manusia berteknologi tinggi di kota-kota metropolitan, ketika mereka mulai berbicara dan menganjurkan meta-industrial village, mencari desa, kembali ke suasana desa di luar masyarakat industri, di seberang masyarakat industri di mana cinta dan kebersamaan masih berarti.
Banyak yang mengatakan bagi negara berkembang keadaan belum sejauh itu. Kemajuan teknologi belum mencapai tingkat menakutkan. Tapi bencana yang disebabkan oleh kerakusan konsumsi sebenarnya mengajarkan satu hal, yaitu membina sikap manusia terhadap benda; dan sikap ini semakin berlaku sejauh menyangkut sumber energi. Ada dua sikap dalam hubungan dengan pemakaian energi. Sikap pertama, adalah melihat minyak dan sumber energi alam lainnya sebagai pendapatan. Dilatari sikap semacam ini usaha yang dilaksanakan adalah menggali dan mendapatkan sebanyak-banyaknya dan menghabiskan sebanyak-banyaknya. Dalam arti tertentu terjemahan sikap semacam ini adalah menghabiskan seluruh persediaan. Dengan kata lain menghabiskan seluruh masa lalu dalam arti harfiah. Sikap kedua, adalah sikap yang melihat minyak dan sumber energi lainnya sebagai modal yang harus dipergunakan secara hati-hati, diputar, dikembangkan dan diinvestasikan.
Bila bencana negara industri mengajarkan sesuatu, maka sikap terakhirh yang dianut. Karena itu, dalam masalah energi terjadi pergeseran dari mengejar dan menggali yang ada di dalam tanah kepada menengadahkan kepala ke atas yaitu untuk bersahabat kembali dengan alam: “mendengarkan kembali bisikan angin dan menyantap sinar matahari”. Atau secara teknokratis disebut konversi sinar matahari dan hembusan angin menjadi sumber energi.
Namun, semuanya hanya menjadi kesadaran sekelompok kecil kaum romantis yang telah melihat dan menyadari bencana akibat pengurasan sumber energi minyak yang tidak terkendalikan. Akan tetapi tidak jarang seseorang bisa melihat tetapi tidak memahami. Dalam keadaan semacam itu masyarakat laksana seorang bayi yang bisa melihat api, tetapi tidak memahaminya. Demikian pun suatu masyarakat bisa melihat bencana tetapi tidak memahaminya. Karena itu mungkin sekali pantang berubah sikap. Maka yang kita dengar adalah dentam suara hentakan kaki kaum romantis di depan pintu. Di saat yang sama kita tahu, tidak seorang pun yang berani masuk.