Pendahuluan Di dalam Repelita III, pemerintah merencanakan akan membangun perumahan flat bertingkat empat tanpa lift yang diprioritaskan untuk masyarakat golongan berpenghasilan rendah di kota-kota besar, khususnya di Jakarta. Sehubungan dengan rencana tersebut, berikut ini adalah suatu tinjauan sosiologi tentang persoalan-persoalan sosial yang mungkin timbul apabila masyarakat golongan berpenghasilan rendah diberi prioritas menempati perumahan flat tersebut.
Karena tulisan ini semata-mata berdasarkan pendekatan sosiologi, maka persoalan-persoalan non-sosiologis tidak dibahas. Padahal banyak persoalan lain yang berhubungan dengan rencana pembangunan perumahan flat bertingkat itu, umpamanya masalah hukum pemilikan (tanah), kesehatan jiwa, lingkungan hidup dan sebagainya. Mudah-mudahan tulisan ini merangsang ahli-ahli bidang lain untuk turut membahasnya.
Pada bagian pertama dibahas hal-hal yang bersifat teoritis, sebagai kerangka landasan berpikir, kemudian pada bagian kedua, diberikan gambaran umum tentang keadaan masyarakat golongan berpenghasilan rendah di daerah perkotaan. Bagian ketiga membahas teori dengan kenyataan yang ada. Sedangkan pada bagian terakhir adalah alternatif kebijaksanaan yang juga merupakan kesimpulan, sekaligus saran-saran.
Perumahan, struktur sosial dan kebudayaan
Rumah sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia tidak bisa dipungkiri lagi. Karena rumah merupakan kebutuhan pokok, maka ia selalu diidamkan setiap orang untuk memilikinya. Oleh karena itu rumah bukanlah semata-mata merupakan kebutuhan individual, tetapi merupakan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
Seseorang (individu) yang telah terpenuhi kebutuhannya akan rumah, tidak berada sendiri, tetapi hadir bersama dengan orang-orang lain, yaitu masyarakat lingkungannya. Karena orang tidak mungkin hidup sendirian, maka dengan sendirinya kehadiran rumah (dalam hal ini penghuni rumah tersebut), mau tidak mau dipengaruhi oleh masyarakat lingkungan di sekelilingnya (total neighborhood unit).
Sulitlah bagi seseorang untuk bersikap masa bodoh terhadap lingkungannya, karena manusia pada hakekatnya berada dan diatur oleh sub-sistem yang berlaku di situ. Langsung atau tidak langsung, cepat atau lambat, manusia melakukan adaptasi dan integrasi terhadap lingkungan yang merupakan sub-sistemnya.1
1 Alex Inkeles, “Kepribadian dan Struktur Sosial”. Dalam Talcott Parson (ed.), Pengetahuan dan Masyarakat : Sosiologi Amerika. (USIS, Mei 1968).