Prisma

Saluran Pemerataaan Informasi di Pedesaan: Koran Masuk Desa atau Jaringan Komunikasi Sosial?

Selain berada di bawah “garis kemiskinan”, masyarakat desa juga barangkali dapat digolongkan berada di bawah “garis kemiskinan informasi”. Untuk itu program Koran Masuk Desa (KMD) perlu dilaksanakan. Tetapi menurut Alwi Dahlan, apabila sasaran pertama adalah pemuka pendapat atau elite desa, belum tentu informasi itu dapat segera tersebar merata ke seluruh rakyat desa. Ada kemungkinan informasi itu “tertahan” pada para pemuka pendapat atau elite informasi tersebut. Disarankan agar melihat jaringan komunikasi sosial dari sasaran itu sendiri, khususnya jaringan-jaringan lokal yang berbeda bentuknya dari tempat ke tempat.

Saluran informasi untuk masyarakat pedesaan sekarang bertambah sebuah lagi. Suratkabar yang selama ini merupakan media yang terutama tertuju untuk daerah perkotaan, akan mengembangkan sayapnya ke desa mulai tahun ini dengan Proyek Koran Masuk Desa (KMD). Daya dan biaya yang kian meningkat akan disediakan untuk mendorong penerbitan koran, edisi atau suplemen khusus bagi daerah pedesaan, sehingga lambat laun akan tumbuh koran-koran lokal yang terbit di desa untuk keperluan desa itu sendiri.

Rencana ini sangat menarik jika diingat bahwa KMD bukanlah sarana komunikasi yang pertama yang sengaja diarahkan untuk membawakan informasi pembangunan ke desa-desa. Dalam 10 tahun terakhir ini saja, berbagai-bagai sarana komunikasi telah diperkenalkan untuk tujuan yang sama—baik yang berupa media massa, saluran kelembagaan ataupun sarana interpersonal.

Sarana baru yang paling menonjol tentunya adalah televisi; dalam waktu relatif singkat medium ini telah menyebar ke seluruh pelosok berkat SKSD Palapa dan pesawat TV umum. Tetapi yang lainnya tidak kalah cepat pertumbuhannya. Radio dan kaset telah mulai terjangkau oleh kebanyakan golongan di pelosok-pelosok. Rupa-rupa perangkat penyuluhan (seperti PLKB, PPL, PLP) serta lembaga-lembaga baru (LSD, Puskesmas, Puspenmas, dan sebagainya) telah dibentuk di mana-mana. Di samping itu terdapat kegiatan-kegiatan informatif baru yang diorganisir untuk mempercepat pengaruh komunikasi, umpamanya dalam bentuk Kelompok Pendengar, Kelompok Baca atau Kontak Tani. Dalam usaha seperti ini termasuk pula adaptasi atau pemanfaatan pranata-pranata tradisional seperti arisan,1 selapanan atau selamatan. Di beberapa daerah, pernikahan pun telah merupakan suatu saluran komunikasi umpamanya dengan memasukkan acara penerangan dalam program pesta apabila mempergunakan fasilitas gratis Puspenmas atau Balai Penerangan Desa.


1 Penggunaan arisan untuk mengajukan pesan merupakan gejala yang makin meluas. Sebagai contoh dapat disebutkan praktek yang dijumpai di Karang Duwet Kabupaten Gunung Kidul. Beberapa arisan di desa tersebut dihadiri oleh kepala desa yang bersedia menarik undian pemenang, tetapi dengan disertai pemberian penerangan mengenai masalah-masalah pembangunan. (Lihat: Nasikun D. Suryo, J. Slamet, R.P. Sumanto, Padmo, Beberapa Aspek Pengelolaan Pendidikan di Gunung Kidul. Seri kertas kerja No. OP 7, Yogyakarta: Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan, Universitas Gadjah Mada, 1977, hal. 37-39). Gejala ini juga didapati di beberapa daerah lain dan mungkin cukup meluas, sehingga telah ditiru pula untuk memasarkan barang-barang. Di daerah sekitar Jakarta umpamanya banyak arisan yang diboncengi dengan promosi kosmetik dan alat-alat rumahtangga; dan ada kalanya barang ini justeru menggantikan uang yang diperoleh pemenang.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan