Ini persis proyek Klondike. Ini seperti keramaian pasar yang ditimbulkan oleh Pipa Minyak Alaska. Ini adalah kesempatan yang bukan hanya untuk cari uang-kadang-kadang cepat, selalu sulit-tapi sekaligus juga kesempatan untuk turut serta di dalam suatu pengalaman bersejarah, suatu eksperimen. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah negeri ini mampu bertahan terhadap goncangan-goncangan, budaya, politik, sosial, lingkungan dan ekonomi.
Seorang usahawan Amerika di Dammam
Sejak Maret 1938, ketika para awak kapal Amerika menjalankan Dammam No. 7, Propinsi Timur telah merupakan jantung produksi minyak yang menakjubkan di Arab Saudi. Dewasa ini propinsi tersebut mengalami gelombang pasang gedung-gedung yang tak ada bandingannya dengan proyek perindustrian di mana pun di dunia. Puluhan ribu pekerja asing, dari pengusaha minyak berkebangsaan Amerika sampai buruh dari Korea (di Jubail saja sudah 9.000 orang), dari buruh kapal Filipina sampai tukang kayu dari Siprus, serta proyek-proyek sebesar puluhan milyar dollar AS, semuanya membuat propinsi tersebut bagaikan kamp kerja raksasa yang luas.
Bagaikan Rotterdam di Teluk Persia
Jubail, yang tadinya merupakan desa nelayan yang sepi di Teluk Persia, 48 mil sebelah utara Dammam, ibukota propinsi, merupakan tempat pembangunan suatu pelabuhan yang besarnya bersaing dengan Rotterdam. Pelabuhan tersebut akan melayani suatu kompleks industri dan petrokimia, didisain oleh Bechtel Corp., yang luasnya 66 mil persegi (dengan tambahan 282 mil persegi guna kemungkinan perluasan) dan diharapkan akan menampung penduduk sebanyak 170.000 jiwa pada tahun 1987.
Sejumlahl uang yang mempesonakan-20 milyar dollar AS-telah dimasukkan dalam anggaran, hanya untuk pembuatan jalan raya pelabuhan, prasarana perhubungan dan berbagai fasilitas dasar lainnya. Biaya untuk pembangunan proyek-proyek lainnya bahkan lebih tinggi: kurang lebih 50 milyar dollar AS untuk penyulingan pabrik baja, pabrik pupuk, pabrik aluminium, industri dasar yang lain, perumahan, serta prasarana komersial dan pemerintahan. Arab Saudi merencanakan suatu kota kembar bagi Jubail-kota baru yang lebih kecil (dengan penduduk yang diperhitungkan akan mencapai 150.000 jiwa pada tahun 2000) dan sebuah kompleks perindustrian di Yanbu, sebelah utara Jidda di tepi pantai Laut Merah. Keduanya akan dihubungkan dengan Propinsi Timur oleh suatu pipa minyak sepanjang 750 mil yang bergaris tengah 48 inci dan akan mensuplai sebuah penyulingan yang diusahakan bersama oleh Mobil Corp., dan Petromin, perusahaan minyak pemerintah yang bernaung di bawah Kementerian Minyak dan Sumber-sumber Mineral Saudi. Sejajar dengan pipa minyak, akan dibuat juga suatu pipa gas yang memberi energi kepada kompleks industri hibrokarbon yang direncanakan akan didirikan di Yanbu. Ralph M. Parsons Co., dari Pasadena, California, telah memperoleh kontrak manajemen dan pengawasan untuk Yanbu.
* Tulisan ini diterjemahkan dari Robert Azzi, “The Saudis Go Far Broke”, Fortune, 31 Juli, 1978.