Prisma

Sebelum Revolusi Industri

Jari masih bisa menghitung jumlah penemuan penting di bidang teknologi sebelum abad XIII. Itu adalah masa pada Abad Pertengahan atau Abad Feodalisme di Eropa Barat, di mana masyarakat hidup dalam isolasi. Masyarakat-masyarakat kecil, di bawah pimpinan para tuan tanah itu, hanya berproduksi untuk keperluannya sendiri, atau dijual di pasar lokal. Memang ada juga perdagangan jarak jauh antara Eropa dengan Dunia Timur yang peradabannya lebih maju. Tapi itu hanya terbatas. Perang Salib sangat mendorong perdagangan, ketika Eropa tergiur oleh komoditi Timur. Di Italia Selatan perdagangan itu berkembang. Florence, Genoa, Venesia dan Milan menjadi terminal perdagangan antara Eropa dan Dunia Timur.

Dari dunia Islam, orang-orang Eropa mulai mengenal komoditi perdagangan dunia. Juga lembaga-lembaga yang berhubungan dengan perdagangan seperti bazar (pasar), duane atau tarif. Kata-kata atau pengertian mengenai atlas, almanak atau angka-angka, dikenal juga dari dunia lain itu. Orang-orang Eropa tadinya hanyalah ikut memperdagangkan komoditi Timur, dari Tiongkok, kepulauan Nusantara, Hindia dan Arab. Akhirnya mereka berusaha memproduksi sendiri berbagai komoditi perdagangan, seperti kertas di Perancis dan gelas di Venesia. Maka pada abad XV, ketika perdagangan telah berkembang, ada 127 macam penemuan terjadi seperti diikhtiarkan oleh sosiolog Rusia, P.A. Sorokin. Itu tidak terjadi secara kebetulan. Penemuan kompas, pada abad XIII, demikian juga mesiu pada abad XIV, didorong dan diperlukan untuk kepentingan perdagangan, sebagaimana halnya atlas dan almanak.

Abad XVI sering disebut sebagai awal dari merkantilis dan terbentuknya perekonomian dunia. Apabila dikatakan bahwa perdagangan mendorong timbulnya industri, timbul pertanyaan di sini, mengapa Revolusi Industri lahir justeru di Inggris dan bukan di Italia? Ekspansi perdagangan internasional terjadi karena penemuan-penemuan benua baru dan jalan ke Timur pada abad XV dan XVI, mula-mula oleh bangsa Spanyol dan Portugis, kemudian oleh Belanda dan Inggris. Tapi sejak abad-abad itu pusat perdagangan juga telah bergeser dari Laut Tengah ke Atlantik, mula-mula di Spanyol dan Portugis, tapi kemudian ke Eropa Barat bagian utara. Sejak abad XVI, Inggris berkembang menjadi kekuatan maritim dunia dan kekuatan kolonial dan sejak abad XVII negara kecil itu menjadi kekuatan perdagangan internasional terbesar. Produksi dengan sistem pabrik muncul di Inggris karena ditarik oleh ekspansi perdagangan internasional, sebaliknya, Inggris juga menjadi eksponen paham perdagangan bebas pada abad XVIII karena didorong oleh perkembangan industri. Dan Revolusi Industri lahir pada abad XVIII tidak di negara-negara lain, tapi di Inggris yang telah menjadi kekuatan perdagangan dunia.

Pada masa-masa terakhir ini, negara-negara kota seperti Singapura atau Hongkong — yang mengingatkan kita pada negara-kota Venesia atau Genoa pada abad pertengahan — telah berkembang menjadi negara-negara industri baru. Di Indonesia, kota bandar Jakarta atau Surabaya, juga telah tumbuh menjadi pusat-pusat industri. Sejak Orde Baru, kelas pemasaran telah mengalami proses transformasi menjadi Captain of Industry. Kelompok tersebut terakhir memiliki kedudukan kukuh dalam industri karena menguasai jaringan pemasaran.

Industrialisasi di Indonesia berakar dari perdagangan komoditi minyak di pasaran dunia. Hasil minyak itu menciptakan kelas konsumen dari golongan menerima gaji dan melalui program pembangunan melahirkan lapisan pembeli barang industri karena kenaikan pendapatan. Pembangunan sebenarnya telah menciptakan pasar di dalam negeri, sekaligus juga lembaga pemasaran. Ini merupakan modal besar jika kita tidak berpikir pesimis dalam situasi resesi dewasa ini. Apabila lembaga pemasaran mampu mengambil inisiatif, baik ke dalam maupun ke luar, maka peluang bagi investasi akan terbuka. Jika industri melangkah, maka, seperti hukum Say, produksi akan menciptakan pasar. Kunci untuk ke luar dari situasi resesi dewasa ini nampaknya terletak pada terjadi tidaknya proses interaksi yang dinamis antara perdagangan dan industri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan