Maria de Bruyn (Ed.), Altering the Image of AIDS, Amsterdam: VU University Press, 1994, 130 halaman.
AIDS sebenarnya masalah bio-molekuler, khususnya perkembangbiakan virus. Tetapi kacamata sosial memberikan perspektif yang tidak kalah menarik dibanding kaca mikroskop. AIDS sebagai drama sosial politis memperlihatkan dinamika dan dampaknya sendiri. Bagi masyarakat umum, citra HIV/AIDS mungkin masih seperti kegaduhan di panggung. Atau suatu ceritera yang masih belum pas benar, belum berbentuk, belum harmonis, tapi sudah ada bayang-bayang nyata. Kita dihadapkan pada berbagai teori, pandangan, bahkan tindakan tertentu yang semuanya dilontarkan atau dibuat karena panik. Selain epidemi ini mematikan, waktu terus bergulir tanpa ada jawaban yang pasti. Dalam kondisi seperti ini, orang saling menyalahkan, mencari kambing hitam, mencari selamat sendiri, berlomba untuk menjadi pahlawan, dan tentu saja jatuh korban. Caci maki antar benua atau antar suku bangsa telah terjadi dalam drama ini.
Buku ini mungkin satu-satunya yang membahas wacana (discourse) epidemi HIV/AIDS di arena sosial-politik yang memuat dua artikel mengenai pengalaman Indonesia. Selain itu, dimuat dua artikel teoretis mengenai konstruksi sosial epidemi AIDS dari de Bruyn and Wolfers dan tiga artikel mengenai pengalaman negeri lain (Vietnam, Zambia, dan Turki), ditambah empat artikel teknis-praktis mengenai cara pelaporan dan berhubungan dengan media massa. Pembahasan ditekankan pada bagaimana mengupayakan perubahan citra AIDS dengan bekerja sama dengan media massa.
Citra atau image adalah sebuah produk (konstruksi) sosial dan proses ini tidak banyak dipahami oleh masyarakat awam. Ada kecenderungan bahwa suatu pandangan tertentu itu benar, dan oleh karena itu, tidak perlu dipersoalkan jika sumber informasinya berkompeten. Dalam hal penyakit, dokter merupakan sumber informasi yang berkompeten. Orang lupa bahwa para dokter adalah manusia yang tidak lepas dari berbagai nilai dan norma budayanya. Pandangannya tentang penyakit dapat saja lebih mencerminkan nilai dan norma masyarakatnya dari pada kenyataan empiris-medis. Apalagi jika di Bali sebagai ARC (AIDS Related Syndrome). Karena mau-tak mau pemerintah pada akhirnya harus mengakui bahwa infeksi HIV/AIDS telah terjadi di Indonesia, maka citra yang diupayakan adalah “HIV/AIDS sebagai penyakit orang-orang tertentu” yang moralitas seksualnya bejat atau perlu dipertanyakan. Orang-orang ini, disebut sebagai “kelompok beresiko”, termasuk turis, orang-orang yang pernah tinggal di atau sering bepergian ke luar negeri, pelacur, dan kaum homoseksual (termasuk waria). Dengan demikian, pemerintah mudah mengatasi konflik kepentingan antara pemberian informasi kepada masyarakat umum dengan kepentingan ekonomi nasional (turisme). Di Bali, pemerintah daerah menekan pemberitaan mengenai AIDS, tidak mengakui secara resmi adanya pelacur dan poster-poster besar dicetak untuk memperingatkan turis.
Script “kambing hitam” ini terus berlangsung sehingga upaya untuk mengetahui penyebaran melalui survei sero prevalensi ditujukan pada para anggota kelompok di atas tanpa menjaga prinsip kerahasiaan (confidentiality). Akibatnya tercipta perasaan aman semu pada masyarakat dan kebijakan diskriminatif di bidang kesehatan. Sebagian dari masyarakat konsumen jasa kesehatan lebih jauh menyatakan bahwa HIV/AIDS merupakan “kutukan Tuhan”. Menurut Hardjanti, pandangan ini menyebabkan kampanye kondom untuk mencegah penularan HIV mentah kembali (hal. 80). Mungkin ini pula yang menyebabkan pendidikan seks di sekolah-sekolah menengah tidak mulus.
masalah itu mengancam kepentingan umum, maka pandangan empiris-medis juga akan dihadapkan pada kepentingan sosial politis. Karena itu tidak mengherankan jika ada epidemi HIV/AIDS terjadi benturan nilai dan norma, karena banyak pihak merasa lebih berkepentingan dari yang lain dan banyak pihak menyatakan berkompeten mengenai masalah tersebut. Salah satu contoh dokumentasi wacana sosial-politis penanganan HIV/AIDS di Amerika Serikat adalah buku karya Randy Shilts (1987) yang berjudul And the Band Played On: Politics, People, and the AIDS Epidemic.
Apa yang diharapkan dari buku kecil ini? Citra sebuah masalah menentukan tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Demikianlah kira-kira pesan ringkas yang hendak disampaikan. Thesis yang dikembangkan adalah: “Agar solusi atas suatu permasalahan efektif, maka citra atau gambaran mengenai permasalahan itu harus dipengaruhi, bekerja sama dengan sumber informasi umum, sehingga solusi yang tepat mudah diterapkan.”
Naskah Ceritera dan Para Pelaku
De Bruyn mengawali bukunya dengan menyatakan bahwa setiap anggota masyarakat yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS merupakan pelaku yang mempengaruhi, maupun tidak, citra masyarakat mengenai epidemi tersebut. Pada diri setiap individu terdapat suatu naskah mental (mental script) atau suatu kerangka ceritera yang memberi petunjuk bagaimana suatu peristiwa terjadi dan apa yang harus dilakukan oleh sang aktor. Kerangka ceritera ini sarat dengan muatan budaya. Dalam hal HIV/AIDS keyakinan-keyakinan tertentu tentang terjadinya suatu keadaan sakit atau seksualitas1 sangat berperan. Di Botswana, misalnya, AIDS dianggap sebagai salah satu bentuk meila, yaitu pelanggaran seksual, baik oleh laki-laki ataupun wanita pada masa abstinensi selama setahun setelah pasangannya meninggal dunia (hal. 4). Di Indonesia, Vietnam dan banyak negeri di Asia, AIDS adalah “barang impor”, “penyakit orang asing” atau “penyakit orang-orang yang berdosa” yang tidak perlu dikhawatirkan.. Di Zambia lain lagi. AIDS dianggap ditularkan oleh wanita yang sedang menstruasi sehingga “Jika anda memakan garam dalam makanan yang dimasak oleh seorang wanita yang sedang menstruasi, anda akan tertular AIDS, Oleh karena itu, laki-laki harus menyimpan garamnya di tempat terpisah” (hal. 5).
Ivan Wolfers menjelaskan bagaimana banyak individu yang telah berasosiasi dalam suatu institusi berperan sebagai para pelaku yang mempengaruhi wacana sosial politis HIV/AIDS. Wolfers beranggapan bahwa pelayanan kesehatan merupakan suatu sektor ekonomi yang mempunyai pemasok dan konsumen (hal. 17-19). Sebagai pemasok adalah kelompok-kelompok pemberi (provider) dan pengatur (regulator) jasa pelayanan kesehatan. Pemberi jasa pelayanan kesehatan terdiri dari para peneliti, pabrik obat, rumah sakit, dan laboratorium. Pengatur jasa pelayanan kesehatan umumnya pemerintah atau para penguasa yang mempunyai wewenang mengatur informasi tentang suatu penyakit maupun jasa pelayanannya.
Di kubu konsumen terdapat masyarakat umum yang takut tertular HIV/AIDS, penderita AIDS beserta keluarga dan teman-teman mereka. Peranan setiap pelaku dalam wacana HIV/AIDS sangat dipengaruhi motivasi mereka. Berbagai kelompok keagamaan, misalnya, akan berbeda motivasinya dengan kelompok penderita AIDS dan rekan-rekan mereka.. Salah satu garis merah antar artikel dalam buku ini adalah peranan media massa dalam menafsirkan dan mengungkap kembali drama yang dimainkan oleh para pelaku seperti dalam artikelnya Wolfers.
1 Bandingkan dengan paparan B.D. Adam, “Sociology and people living with AIDS“, in J. Huber & B.E. Schneider (Eds.), The Social Contexts of AIDS, Newbury park, CA: Sage Publications, 1992, hal. 3-18.