Antara Kontinuitas dan Diskontinuitas
Sejarah Indonesia moderen berawal dari abad ke-19 sampai sekarang. Masa penjajahan adalah bagian darinya dan di masa itu pula berawal perubahan-perubahan penting yang dinamakan “modernisasi.” Belakangan ini, kontinuitas dan diskontinuitas sebagai manifestasi dari waktu historis semakin jelas wujudnya melalui kerja dan ketekunan sekelompok sejarawan. Ciri-ciri umum aspek ganda sejarah Indonesia moderen itu muncul dari hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa dasawarsa terakhir.
Ada konsensus di kalangan para sejarawan, bahwa sejarah Indonesia moderen berawal di abad ke-19 sampai sekarang. Ini berarti, masa penjajahan adalah bagian daripadanya. Seperti akan dikemukakan, kini telah dapat dibuktikan, bahwa di masa penjajahan itulah berawal perubahan-perubahan penting yang biasanya dinamakan “modernisasi.” Dalam masa itulah masyarakat Nusantara mengalami perubahan-perubahan sosial dan ekonomi yang menentukan kehidupannya di masa kini.
Tetapi di balik perubahan ada kesinambungan. Kontinuitas dan diskontinuitas sebagai manifestasi dari waktu historis itu, makin lama makin jelas wujudnya dalam sejarah Indonesia moderen melalui pekerjaan dan ketekunan sekelompok sejarawan yang bekerja dalam berbagai institusi di dalam dan luar negeri.
Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri umum wujud nyata aspek ganda sejarah Indonesia moderen itu yang muncul dari hasil penelitian selama beberapa dekade ini. Wujudnya memang masih kabur, tetapi profilnya sudah jelas. Pekerjaan memang masih banyak, waktu jelas masih lama, tenaga ahli yang dibutuhkan harus lebih banyak lagi, sebelum orang bisa merasa puas. Tetapi apa yang telah dihasilkan cukup menggembirakan.
Tulisan ini bukan pengukuran, bukan pertanggungjawaban, tetapi hanya ulasan dari orang dalam, dan sebab itu subyektif sifatnya. Ini hanyalah perkenalan bagi mereka yang belum berkenalan. Perkembangan dalam dunia historiografi tidak mungkin terjadi tanpa perkembangan ilmu sejarah, dan sebab itu pembahasan akan diawali dengan catatan tentang kemajuan ilmu sejarah.
Kemajuan Ilmu Sejarah
“Aliran” Annales yang muncul di Perancis sejak tahun 1929,1 dapat dianggap sebagai tonggak penting dalam perkembangan historiografi moderen. “Revolusi” dalam ilmu sejarah itu tidak saja memberi wajah lain pada ilmu sejarah Perancis, tetapi juga sangat berpengaruh pada para sejarawan lainnya, tidak terkecuali yang mempelajari sejarah Indonesia. Dari tangan seorang pendiri “aliran” ini di tahun 1947 muncul sebuah buku kecil yang ditulisnya dalam masa Perang Dunia II, mengenai fungsi ilmu sejarah dan profesi sejarawan.2
Dalam tahun ’60-an terjadi lagi suatu pergolakan di kalangan sejarawan mengenai hakekat dan fungsi ilmu sejarah. Tidaklah mengherankan kalau sejak itu muncul berbagai upaya untuk memperjelas posisi ilmu sejarah dalam khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya. Justru nama-nama besar dalam dunia historiografi muncul dengan penerbitannya yang tidak jarang menimbulkan perdebatan sengit di kalangan akademis.3
Dari pembahasan singkat tersebut dapat disimpulkan, bahwa dalam kalangan para sejarawan masa kini berkembang tiga atau empat kelompok utama teori dan metodologi sejarah, yaitu empiris (individualis), struktur-fungsionalis, strukturalis dan strukturis.4
Di antara teori dan metodologi tersebut ada yang secara epistemologis bisa disebut “realis.” Para sejarawan yang tergolong “realis” yakin, bahwa ilmu sejarah adalah obyektif karena bisa menjelaskan realitas sebagai mana adanya. Para sejarawan ini beranggapan, bahwa ilmu sejarah mempelajari struktur-struktur sosial dan perubahannya.5
Selain itu, ada pula teori-teori yang secara epistemologis bisa disebut “relativis.” Para sejarawan yang menganutnya beranggapan, bahwa ilmu sejarah adalah subyektif, karena realitas sejarah betapapun juga tidak bisa diungkapkan secara obyektif. Sebab itu mereka berpendapat, bahwa sejarawan perlu menjelaskan subyektivitasnya, atau mengapa ia memilih suatu permasalahan historis dan menolak yang lain.6
1 Lihat, Peter Burger, The French Historical Revolution: The Annales School 1929-1989 (Cambridge University Press, 1990).
2 Lihat, Marc Bloch, Pleidooi voor de Geschiedenis of Geschiedenis als Ambacht, terjemahan Belanda dari bahasa Perancis oleh Marleen Wessels (Nijmegen: SUN, 1989).
3 Beberapa di antaranya adalah, Fernand Braudel, Geschiedschrijving, terjemahan dari bahasa Perancis oleh C.P. Heering-Moorman (Basisboeken Ambo, 1979); Chris Lorenz, De Constructie van het Verleden: Een Inleiding tot de Theorie van de Geschiedenis (Amsterdam: Boom Meppel, 1990); Peter Burger, History and Social Theory (Polity Press, 1992); Christopher Lloyd, Explanation in Social History (London: Basil Blackwell, 1986); Christopher Lloyd, The Structures of History (London: Basil Blackwell, 1993).
4 Lloyd, 1993, hal. 66-88.
5 Lloyd, 1986.
6 Lorenz, op.cit.