Prisma

Sejarah itu Selalu Kontemporer

Teori modernisasi selalu mengajak kita melihat ke depan, bukan ke belakang. Arti praktisnya adalah, melihat model-model ideal. Gambar yang tersedia tentunya adalah masyarakat industri maju, mungkin bercorak kapitalis, sosialis atau alternatif welfare state. Dengan melihat ke muka itu kita sering lupa bahwa model-model itu mempunyai sejarahnya sendiri. Cara berpikir traditional-modern continuum itu sebenarnya mengandung suatu pengandaian bahwa masyarakat tradisional, yaitu di mana kita hidup sekarang ini, seperti kata Andre Gunder Frank, sebagai kondisi awal, seolah-olah masa sebelumnya adalah pra-sejarah. Kelalaian berpikir historis itulah nampaknya yang mendorong kita untuk cenderung membuat rencana ‘melompat jauh ke depan’, tanpa secukupnya menyadari realitas sekarang.

Para ahli sejarah sering memberi nasehat peringatan, yaitu untuk mau melihat sejarah. Setelah melihat masa lampau, kata penulis sejarah Filipina, JRM Taylor, akan nampak bahwa pengertian dan pemahaman kita tentang masa kini sebenarnya miskin. Berbagai aspek sejarah tersembunyi dari pandangan kita. Ini bisa bersumber dari atau lebih dipertajam oleh proses mis-edukasi. Karena tidak mempunyai akses yang cukup terhadap fakta atau kebenaran sejarah, maka suatu sense of history makin menipis. Di situ kita akan kehilangan apresiasi terhadap hubungan kita dengan masa lampau yang sesungguhnya mengandung banyak arti dan menjelaskan berbagai duduk perkara masa kini.

Retrospeksi tidak sama dengan sikap konservatif maupun tradisional. Karena betapa pun, sejarah itu selalu bersifat kontemporer, seperti pernah dikatakan oleh filsuf sejarah besar Itali, Benedetto Groce. Maksudnya, orang selalu memandang masa lampau menurut kacamata zamannya. Itulah sebabnya, maka sejarah selalu bersifat baru. Di balik warna kebaruan itu tersembunyi suatu semangat tertentu. Sejarah seolah-olah memantulkan sinar pencerahan dan menerangi jalan ke depan. Sejarah bisa menjawab berbagai persoalan dan pertanyaan. Misalnya tentang identitas bangsa Filipina seperti yang dicari oleh Renato Constantino.

Kita di Indonesia tentu juga perlu bertanya lebih banyak kepada sejarah. “Bertanya”, artinya kita harus menulis sejarah rakyat kita sendiri, tentu saja dari sudut pandangan kita sendiri juga. Yaitu yang ditarik dari persoalan kontemporer yang kita hadapi. Kalau tidak, maka kita akan terpaksa bertanya lewat sarjana asing. Di sini ternyata kita harus “terkejut” melihat kenyataan bahwa masa-lampau kita telah banyak digali oleh sejarawan luar negeri. Bahkan suatu seminar khusus tentang Perekonomian Indonesia pada Masa Kolonial Belanda, akan diadakan di Australian Nasional University, pada bulan Desember 1983, di mana kita harus lebih banyak menjadi pendengar. Atau kita terpaksa harus belajar sejarah kita sendiri yang ditulis secara ethnosentris Eropa. Misalnya tentang perkembangan kapitalisme dunia yang bermula di Eropa Barat pada abad ke-16, — khususnya tentang ekspansi perekonomian Belanda ke kawasan Nusantara seperti yang ditulis oleh Immanuel Wallerstein.

Suatu yang perlu lebih disadari adalah, bahwa struktur perekonomian kita sekarang, bahkan juga kemampuan atau tingkah laku ekonomi bangsa kita, banyak dipengaruhi, bahkan telah dibentuk, oleh berbagai peristiwa sejarah, misalnya sejarah abad ke-19. Kalau dalam Seminar PERHEPI baru-baru ini dipersoalkan “Apa dasar filsafat sistem perkebunan kita”, maka sejarah akan banyak menjelaskan berbagai persoalan kongkrit yang kita hadapi sekarang. Demikian pula tentang begitu banyak persoalan-persoalan lain.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan