Prisma

Sejarah, Statistik dan Teori

Suku pengembara di Afrika atau Kalimantan, menancapkan tongkatnya ke tanah, menemukan sumber air. Pandangan mistis akan mengatakan bahwa mereka itu memiliki ngelmu meramal dan menujum, atau memiliki hubungan batin dengan kosmos. Padahal di balik itu tersembunyi pengalaman akumulatif, yang kalau direkonstruksi bisa menjadi peta statistik geologi air. Dengan pengalaman yang mengendap itu mereka bisa mengendalikan ketidakpastian dan dapat menebak sesuatu di antara kemungkinan dan kesempatan. Sekarang, para penyelidik geologi mempergunakan catatan-catatan, dari mana dapat diperoleh tanda-tanda, keganjilan dan keumuman. Perilaku alam yang merupakan susunan logis, yang terdiri dari kadar dan takaran itu, dapat dibaca dari statistik.

Galton dan Pearson, telah memulai penyelidikan biologi dengan metode statistik pada akhir abad XIX. Namun ternyata, para tokoh penjudi abad XVII, sudah mengajukan persoalan keganjilan dan kesempatan menebak dalam kombinasi pelemparan dadu kepada para ahli matematik. Sekarang, bisnis asuransi, mewarisi hasil kerja mereka. Gejala ‘takdir’ yang sering disebut sebagai ‘urusan Tuhan’ itu, kini telah dicoba dikendalikan dengan statistik. Justeru di tengah-tengah ketidakpastian itulah statistik melakukan pekerjaannya dan mengukuhkan peranannya yang telak.

Tetapi statistik menjalankan tugasnya melalui agregasi, penyederhanaan dan abstraksi. Itulah cara yang ditawarkannya. Dengan itu statistik menjanjikan kepada para pengambil keputusan, suatu cara yang cepat dan kurang risikonya, menghadapi kompleksitas permasalahan dan ketidakpastian masa depan. Jan Tinbergen menyumbangkan jasa statistik kepada pemerintah di seluruh dunia dalam perencanaan pembangunan, untuk mana ia menerima hadiah Nobel. Tapi Myrdal, juga menerima penghargaan itu, antara lain karena kritiknya terhadap pendekatan statistik. Dikatakannya, bahwa pendekatan matematis-statistis itu sering menyebabkan orang lupa pada segi proses sebab-akibat dan interaksi dari berbagai faktor kelembagaan yang kompleks dalam masyarakat yang berkembang. Perdebatan antara Tinbergen dan Myrdal pada akhir dasawarsa ’60-an melambangkan perbedaan pendekatan matematis-statistis dengan pendekatan sosiologis.

Mungkin di situ orang lupa pada keterangan Schumpeter yang mengatakan bahwa syarat yang menjadikan seorang ahli ekonomi itu adalah penguasaannya pada tiga hal: sejarah, statistik dan teori. Betapapun, statistik adalah simbol dari pengalaman yang dikerangkakan. Suatu kekeliruan atau kekurangan analisa terjadi karena orang menstatistikkan teori tanpa sikap kritis. Angka statistik bisa tidak keliru secara teknis. Tapi kalau teori telah salah menyimpulkan pengalaman sejarah, maka seluruh analisa itu bisa dianggap keliru atau kurang benar. Di situ, statistik bisa hanya merupakan legitimasi dari pandangan yang salah.

Walaupun hanya merupakan ilmu alat dan ilmu bantu, statistik bisa memegang kunci dalam perkembangan ilmu, bukan hanya sekedar alat legitimasi. Statistik bisa mengisyaratkan adanya keganjilan-keganjilan dalam pandangan orang. Suatu pertanyaan bisa membawa orang ke dalam penyelidikan sejarah. Dari penemuan kembali (rediscovery) sejarah, orang bisa meluruskan teori yang bengkok. Justeru dengan melihat ke belakang sejenak, pandangan ke muka bisa menjadi lebih terang.

Selama ini statistik lebih banyak membantu pemerintah, dan membantu ilmuwan menjadi teknokrat. Setelah berkembang lebih dari satu dasawarsa, para ilmuwan perlu bertanya, kapan statistik bisa menunjukkan keganjilan-keganjilan yang bisa mendorong mereka menengok sejarah dan mengutik-utik teori? Jika pertanyaan itu tidak timbul, maka statistik akan berkembang dalam landasan yang goyah, bahkan bisa memberi gambaran yang menyesatkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan