Prisma

Sejauh-jauh Mata Memandang: Prisma dan Pergulatan Perempuan

Sebagai jurnal pemikiran ekonomi, sosial, dan budaya yang memberi narasi alternatif atas kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara sejak 50 tahun lalu, Prisma punya peran tersendiri dalam sejarah intelektual Indonesia. Pada tahun-tahun terbaiknya, Prisma merupakan rujukan utama bagi kaum cendekia progresif. Sebagaimana dikutip dari “Kerangka Acuan tentang Edisi Khusus 50 Tahun Prisma”, pendekatan Prisma yang menerapkan perspektif “Ekonomi politik untuk memahami siapa/kelompok mana yang paling diuntungkan, who get the most benefit at whose cost” menandakan adanya penyikapan atas tatanan ketidakadilan yang struktural dan menyejarah sebagai pijakan dasar bagi para cendekia Prisma. Dalam kerangka itu, tentu dicatat bahwa ketidakadilan berbasis gender dan peminggiran perempuan terus langgeng di bumi Nusantara ini karena saling berkelindan dengan bentuk-bentuk ketimpangan dan penindasan lainnya.

Dengan semangat melihat ke belakang untuk menapak ke depan, esai ini mengkaji sejauh mana narasi keilmuan yang disuguhkan oleh Prisma dalam kurun waktu separuh abad ini menyentuh dan memaknai pergulatan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Setelah “tidur” selama 10 tahun, saat rezim Orde Baru berakhir, Prisma “bangun” kembali di tengah era yang jauh berbeda secara politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi. Wujud pergulatan perempuan pun mengalami perubahan yang signifikan dalam jangka waktu tersebut. Esai ini berfokus pada periode sebelum dan sesudah masa jeda Prisma yang dilakukan melalui akses pada daftar edisi-edisi Prisma beserta nama para penulis dan judul tulisan mereka.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan