Masalah seksual dalam masyarakat bisa juga diamati melalui media pertunjukan tradisional yang ada. Menurut Ninuk Kleden-Probonegoro, seni pertunjukan tradisional antara lain dapat dipahami dari inter-relasi antara seniman dan penonton. Untuk itu, digunakan dua macam konsep untuk menjelaskannya, yaitu afinitas imajinatif yang membuat seni pertunjukan tradisional merupakan sarana untuk pemahaman diri, dan afinitas afektif yang menjadi wadah ungkapan-ungkapan perasaan ringan, baik itu dari seniman maupun penontonnya.
KEHENINGAN malam terkuak oleh alunan gamelan, gambang kromong dan kliningan. Tangan keriput itu tampak singgah ke dalam kutang seorang ledek dalam acara tayub, cokek kelihatan ngibing dengan iringan bau alkohol. Ronggeng memutar pinggulnya ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang, dan dada digoyangkan. Seorang laki-laki setengah terpejam tampak mengusap-usap pantat sinden dalam jaipongan. Dombret berjalan gontai dalam pelukan laki-laki tegap menuju ke gelap-an malam, menjauhi alunan musik, mencari debur ombak.
Afinitas Afektif dan Keseimbangan Manusia
Sebelum melihat apa yang hendak dibicarakan tentang seks dalam pertunjukan tradisional itu, ada baiknya kalau terlebih dahulu diperkenalkan konsep-konsep yang akan digunakan dalam tulisan ini. Mengenai konsep seks itu sendiri terlalu sulit untuk dijelaskan, karena juga telah banyak dibicarakan orang. Meskipun demikian, deskripsi di atas dapat membawa kita pada pemahaman tentang seks yang akan dipaparkan dalam tulisan ini.
Seni pertunjukan tradisional antara lain dapat dipahami dari interrelasi antara seniman dan penonton. Ada dua macam konsep yang dapat menjelaskan inter-relasi tersebut, yaitu afinitas imajinatif dan afinitas afektif.1
1 Ninuk Kleden-Probonegoro, teater topeng betawi sebagai teks dan maknanya; Suatu Tafsir Antropologi, Disertasi pada U.I., 1987.