Prisma

Sikap Terhadap Alam

Sejak pertama kali terbit tahun 1972, The Limits to Growth—laporan yang dibuat team Massachusets Institute of Technology (MIT) untuk Kelompok Roma—telah terjual dalam jutaan eksemplar dan telah diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Sejak itu pula, berbagai sanjungan dan kritik telah ditujukan terhadap hasil studi tersebut.

Kini, sepuluh tahun kemudian, pokok-pokok pikiran dalam hasil studi tersebut terasa masih menantang untuk didiskusikan lagi. Tesis utamanya memang bernada suram. Perkiraan dan prognose tentang perkembangan masa depan dalam kurun waktu 50-100 tahun perihal kehidupan manusia dalam hubungannya dengan sumber daya yang masih tersedia menunjukkan suatu tanda-tanda mencemaskan.

Beberapa studi yang dilakukan kemudian memang berhasil menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam laporan MIT ini. Namun demikian, sekurang-kurangnya, laporan ini telah berhasil menggugah suatu kesadaran baru manusia terhadap keterbatasan-keterbatasan sumber daya yang ada. Keterbatasan ini berkaitan dengan interaksi antara unsur-unsur kependudukan, sumber daya alam dan energi, pangan hingga ke industri.

Sejak manusia beralih—mengikuti pikiran Alvin Toffler—dari “Gelombang Pertama” ke “Gelombang Kedua”, maka eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber-sumber daya alam tak terhindarkan lagi. “Kemajuan” atau “kesejahteraan” telah menjadi pembenaran untuk eksploitasi atau pengrusakan terhadap alam. Dalam hal ini, tak ada perbedaan antara sistem kapitalis atau sosialis: keduanya sama memandang alam sebagai obyek yang harus dimanfaatkan. Mereka hanya berbeda dalam hal bagaimana membagi antara mereka sumber-sumber alam itu.

Peradaban “Gelombang Kedua” memang akhirnya harus ditinggalkan manusia dan beralih ke “Gelombang Ketiga” karena—kata Toffler—eksploitasi terhadap alam tidak bisa diteruskan lagi dengan tingkat seperti sekarang ini, cadangan energi tidak dapat diperbaharui sudah terlihat batasnya, di samping alasan-alasan lainnya. Namun apakah dengan begitu manusia akan bersikap seperti pada peradaban “Gelombang Pertama” ketika mereka hanya mengandalkan “energi alamiah” yang tersimpan dalam otot hewan, dalam hutan, atau langsung dari angin, matahari atau air? Mustahil rasanya membayangkan hal itu di tengah-tengah realitas kompleks industri internasional yang semakin luas dan berkuasa itu.

Di Indonesia, gema dari hasil studi team MIT dan Kelompok Roma itu memang terasakan pula sebagaimana nampak pada ikhtiar untuk menyusun kebijakan nasional di bidang pengelolaan sumber daya alam yang meliputi sumber daya mineral dan energi, sumber daya tanah, sumber daya hutan dan tumbuh-tumbuhan serta sumber daya air dan sumber daya lautan (marine resources).

Namun seberapa jauh kesadaran itu telah berhasil mendorong kita untuk menilai kembali sikap kita terhadap sumber-sumber daya itu? Rasanya tak cukup hanya dengan ikhtiar-ikhtiar verbalistis sembari menciptakan lagu “Kemarau” yang meratap tentang “mengapa hutanku hilang”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan