Prisma

Simbolisme Perkotaan Di Indonesia

Kasus Padang “Kota Tercinta”

Dunia simbolik kota Padang kini bercampur aduk antara simbol agama Islam, adat Minangkabau, nasionalisme dan arsitektur moderen lainnya, misalnya makin banyak atap tradisional Minangkabau melekat di sebagian besar gedung-gedung moderen. Apakah ini merupakan ungkapan dari kebangkitan identitas etnis? Tampaknya, jawaban harus diletakkan dalam konteks kepiawan Negara Orde Baru untuk menundukkan dan memadukan berbagai tradisi budaya daerah ke dalam hegemoni resmi budaya nasional.

Simbolisme Perkotaan

Laju pertumbuhan simbol-simbol perkotaan, –seperti yang telah ditunjukkan beberapa studi lainnya– merupakan suatu yang lumrah di seluruh pelosok Indonesia dan beberapa negeri tetangga.1 Dapat disimak, di Indonesia telah berlangsung suatu ledakan dalam konstruksi patung, atap tradisional serta berbagai monumen dan gedung dengan maksud simbolik yang sangat tinggi.

Mengapa Indonesia mengalami laju pertumbuhan simbol-simbol perkotaan sedemikian cepatnya pada tahun 1980an?

Apakah kini kita menyaksikan adanya perjuangan hegemoni budaya antara pemerintah pusat dimana suku Jawa, Angkatan Bersenjata, kelompok Islam dan kelompok yang bersifat kedaerahan cukup dominan? Ataukah perjuangan hegemoni budaya ini hanyalah semacam kemewahan publik semata dan merupakan kemudahan untuk melengkapi suatu ‘proyek’ yang tak lepas dari nilai keuntungan finansial?

Saat ini kita lebih mampu mengajukan berbagai pertanyaan daripada memberi jawaban. Sebuah studi kasus mengenai Padang –ibukota propinsi Sumatra Barat– berusaha untuk secara empiris menggelar fondasi sebagai bahan analisis lanjutan mengenai citra dan simbolisme perkotaan yang beraneka ragam di Asia Tenggara.

Bahkan orang yang secara kebetulan atau sesekali mengunjungi ibukota propinsi Sumatra Barat ini akan sangat terkesan oleh tanda-tanda vitalitas (daya hidup) perekonomian, kepadatan lalu lintas serta berjejal-jejal dan sibuknya pengunjung pasar-pasar. Sama halnya dengan berbagai kota lain di Indonesia yang tidak begitu besar, Padang telah mengubah citranya selama kurun waktu dua dasawarsa ini: dari sebuah kota sunyi sepi menjadi pusat perniagaan dan administrasi yang cukup menggetarkan. Paling tidak situasi atau kondisi seperti inilah yang terlintas dalam benak kita bila menjelajahi kota dari pelabuhan Teluk Bayur di bagian Selatan menuju Bandara Tabing di bagian Utara.

Bila membandingkan antara kesan pribadi saya terhadap kota ini selama mengadakan penelitian lapangan mulai tahun 1969 sampai tahun 1970 dan pengamatan saya pada tahun 1991, ada tiga perubahan nyata yang dapat saya tangkap yaitu dalam bidang agama, perniagaan dan pemerintahan.2 Masing-masing bidang ini telah memunculkan sosoknya dalam gedung-gedung serba baru, yang tentunya telah didirikan atau diubah bentuk sejak tahun-tahun tersebut. Ada beberapa mesjid baru, pusat pasar telah diperluas dan sejumlah gedung kantor pemerintah yang sangat megah telah pula didirikan. Sebagai tambahan, ciri-ciri perniagaan lengkap dengan berbagai wujudnya telah diubah dan dikembangkan sedemikian rupa. Tepat di depan pusat pasar lama telah dibangun sebuah kompleks pusat perbelanjaan dan department store berlantai empat –pada umumnya kosong dan bahkan bangkrut– sedangkan pusat kota telah penuh dengan gedung-gedung bank yang terkesan agak berlebihan ukurannya.

Namun demikian, yang sangat menyentuh perhatian saya yaitu sedemikian banyaknya atap tradisional Minangkabau (bergonjong) yang melekat di sebagian besar gedung-gedung umum. Bahkan ada beberapa contoh penggunaan atap adat yang secara sengaja dipakai untuk memayungi jalan masuk atau kubah (an arch). Sampai sekarang atap-atap yang melengkung ini hanya dipakai untuk menghiasi hunian matrilineal di dataran-dataran tinggi Minangkabau dan belum pernah ada di desa-desa sekitar pantai, apalagi di perkotaan.3 Sejak awal tahun 1980an gedung-gedung pemerintah didisain sedemikian rupa agar selalu mengedepankan bentuk atap Minangkabau, dan kepada para investor swasta yang berhubungan erat dengan pemerintah juga dihimbau untuk ikut serta menggunakan atap-atap Minangkabau.4


1 Benedict R.O’G Anderson, Language and Power (Ithaca: Cornell University Press, 1990), Chapter 5; John Clammer, “Symbolism and Legitimacy: ‘Urban Anthropology’ and the Analysis of Singapore Society”, Jurnal Antropologi dan Sosiologi 10&11, 1982/83, hal. 3-14; Peter J.M. Nas, “Jakarta, City Full of Symbols. An Essay in Symbolic Ecology,” SOJOURN 8, 1992; Hans-Dieter Evers and Solvay Gerke, A Dayak Lady Goes to Town. Cultural Dynamics in an Indonesian Province. Working Paper No. 154, Sociology of Development Research Centre, University of Bielefeld, 1991; Hans-Dieter Evers, The Image of an Indonesian Town. Padang and the Rise of Urban Symbolism in Indonesia. Paper, Symposium on Urban Images, Leiden, 6-9 Januari, 1992 (akan diterbitkan dalam Peter Nas (ed.), Urban Images. Leiden: Brill), 1992; Rudiger Korff, “Bangkok as a Symbol? Ideological and Everyday Life Constructions of Bangkok.” Paper, Symposium on Urban Images, Leiden, 6-9 Januari, 1992 (akan diterbitkan dalam Peter Nas (ed.), Urban Images. Leiden: Brill), 1992.

2 Penelitian lapangan dilaksanakan di kota Padang selama duabelas bulan pada tahun 1969-1970 dan masing-masing selama dua bulan pada tahun 1973 dan tahun 1991. Studi ini merupakan hasil kerjasama antara Fakultas Sastra dan Ilmu Sosial Universitas Andalas (Prof.Dr. Azis Saleh) dan Pusat Penelitian Sosiologi Pembangunan Universitas Bielefeld. Lihat Hans-Dieter Evers, “Changing Patterns of Minangkabau Landownership”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 131,1, 1975, hal. 86-110; Hans-Dieter Evers, “Religiöser Revivalismus und Modernität”, dalam Wolfgang Glatzer (Hrsg.), Die Modernisierung moderner Gesellschaften, (Opladen: Westdeutscher Verlag, 1991), hal. 97-100.

3 Faktaanya, Padang telah mengembangkan rumah bambu tradisional dengan serambi yang luas, dinding depan yang berukiran indah dan atap lurus. Hunian moderen dewasa ini sering dihiasi pilar-pilar Yunani, yang oleh orang Padang disebut “bergaya Spanyol”.

4 Ada juga beberapa monumen yang lumayan jumlahnya, namun tidak akan dibicarakan pada kesempatan ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan