Pengantar
Prof. Sumitro Djojohadikusumo meramalkan bahwa Pulau Jawa pada tahun 2000 akan menjadi “pulau kota” sebab akan mencapai kepadatan penduduk sebesar 1.105 jiwa per kilometer persegi.1 Malahan Meier dari Universitas California, Berkeley, membayangkan terbentuknya semacam “megalopolis” di Pulau Jawa yang dianjurkannya agar masyarakatnya berorientasi kepada tata kehidupan yang mengirit sumber daya.2 Kelihatannya tidak terelakkan lagi bahwa kota-kota akan memiliki peranan yang lebih penting di dalam menampung dan meningkatkan kegiatan usaha masyarakat, terutama mengingat terbatasnya persediaan tanah pertanian di Pulau Jawa.
Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk meninjau masalah pengembangan wilayah Pulau Jawa dari sudut pengaturan sistem tata-ruang dengan melalui pengenalan konsep pusat-pusat pertumbuhan (growth centers consept). Jelas bahwa suatu strategi pengembangan kota-kota akan sangat dibutuhkan, untuk itu penulis mencoba mengadakan sedikit studi empiris pertumbuhan kota-kota di Pulau Jawa dengan menggunakan data-data mulai dari tahun 1920 sampai dengan tahun 1961. Sangat disayangkan bahwa pada saat penulisan naskah ini data sensus tahun 1971 belum sempat diolah.3
1 Sumitro Djojohadikusumo, “Indonesia Menuju Tahun 2000: Gambaran Nasional, Regional, dan Global”, Prisma, No. 2, April 1975, hal. 15-30.
2 Richard L. Meier, “Prospek untuk Gaya Hidup Konservasi Sumber Daya yang Mempercepat Pembangunan Indonesia”, (mimeo.), hal. 3. Lihat pula tulisan Soedjatmoko, “Futurologi dan Kita: Suatu Uraian Pengantar”, dalam Prisma, ibid., yang juga mengambil sumber tulisan Prof. Meier yang sama.
3 Seluruh data-data bersumberkan kepada hasil penelitian penulis pada tahun 1972 di Universitas Cornell, di mana hasil sensus 1971 belum dipublisir.