Pada hari Minggu, 29 Januari 1950, di sebuah rumah peristirahatan di Magelang, Soedirman, Letnan Jenderal, Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, menutup mata untuk selama-lamanya. Keesokan hari, jenazahnya diantar dengan iring-iringan menuju ke Yogyakarta, ibukota-perjuangan, untuk dimakamkan di sana.
Sepanjang route yang jaraknya 48 km itu rakyat berderet-deret di tepi jalan. Orang-orang sederhana keluar dari desa-desanya dan dengan berdiam diri memandang jenazah lalu. Ketika iring-iringan tiba di Yogyakarta, khalayak yang menunggu di sepanjang jalan kian menebal, hingga akhirnya di alun-alun utara berjubal-jubal. Jenazah diturunkan sebentar untuk disembahyangkan di Mesjid Agung, tempat almarhum begitu sering melaksanakan ibadah.
Mereka yang menyaksikan tahap terakhir dalam perjalanan penghabisan almarhum, dari Mesjid Agung ke Taman Makam Pahlawan Semaki, tidak akan dapat melupakan suasana duka yang diaksentuasi oleh bunyi redup genderang yang disalut oleh kain hitam. Suasana yang hening, mengingkari hadirnya ribuan manusia yang berjejal-jejal, berhimpit-himpit di kedua tepi jalan. Pada tempatnyalah jika orang bertanya, baik pada waktu itu maupun sekarang 27 tahun kemudian, mengapa tokoh yang kurus dan rapuh itu telah memperoleh tempat yang begitu hangat di dalam dada orang dari sekian banyak lapisan masyarakat, yang sebagian terbesar belum pernah melihat wajahnya pada suatu zaman yang belum mengenal televisi dan yang memiliki pers yang masih sangat sederhana perlengkapannya? Mengapa orang yang baru empat tahun hadir pada pentas nasional dapat memperoleh tempat di sisi sekian banyak pemimpin-pemimpin bangsa yang telah selama beberapa puluh tahun menjadi buah bibir khalayak ramai?

