Prisma

Soedjatmoko, Nasionalisme Baru dan Sejarah Baru

Soedjatmoko, Mohammad Ali, G.J. Resink, dan George McTurnan Kahin (eds.), Historiografi Indonesia: Sebuah Pengantar (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan Soedjatmoko, 1995), xviii + 463 halaman (termasuk catatan, indeks nama dan indeks karya ilmiah).

Soedjatmoko adalah ujung tombak buku “Historiografi Indonesia” ini. Ada semangat kemerdekaan, keindonesiaan, eksistensi dan “perlawanan” ilmiah yang mau dihidupkan oleh Soedjatmoko. Bagi dia, semangat itu adalah semangat yang dilandasi oleh kesadaran historis, kasadaran ilmiah dan nasionalisme-aktif yang tak boleh padam. Subjek pelaku yang dibidik Soedjatmoko di sini adalah ilmuwan dan sejarawan pribumi. Di dalam Pendahuluan (hal. xiii) dan Bab XXII, “Sejarawan Indonesia dan Zamannya” (hal. 358) buku “Historiografi Indonesia” yang disunting Dr. Abdurrachman Surjomihardjo dan Titis Eddy Arini ini, Soedjatmoko ingin menegaskan posisi, tanggungjawab dan agenda nasionalisme yang harus digarap oleh sejarawan Indonesia.

Tantangan internal dalam sejarah Indonesia, menurut Soedjatmoko adalah pertarungan antara sejarah sebagai alat perjuangan yang berisi kebudayaan tradisional (pandangan hidup ahistoris) dengan sejarah sebagai ilmu yang berisi semangat ilmiah (pandangan hidup modernis). Di dalam sejarah sebagai ilmu itulah sejarawan berkarya untuk hidup dan menghidupi Indonesia. Agenda baru perjuangan, tidak lain adalah mengubah arah penulisan sejarah dari Eropa-sentris ke Asiasentris dan selanjutnya ke Indonesiasentris.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan