Prisma

Soekarno: Memeriksa Sisi-Sisi Hidup Putra Sang Fajar

Kesulitan terbesar menulis tentang tokoh-tokoh besar adalah karena mereka tidak penah menulis tentang dirinya sendiri. Jesus Kristus tidak menulis, Nabi Muhammad SAW tidak menulis, dan Buddha Gautama tidak menulis. Mereka semua berbicara, mengajar, dan bertindak. Mereka berbicara dan pembicaraannya adalah wahyu yang tidak bisa dan boleh dibantah, dalam arti apa pun. Semuanya harus diterima atau ditolak, dengan konsekuensi keselamatan di dunia dan akhirat.

Di antara manusia-manusia besar “biasa” hanya sebagian kecil yang berbicara, bertindak, dan menulis. Gaius Julius Caesar (100-44 SM), panglima perang Imperium Romanum, menulis semacam memoir perang Commentarii de Bello Gallico, Perang Galia dan perannya sebagai panglima, imperator—Galia adalah gabungan antara Belgia, Perancis, dan sedikit Swiss sekarang—yang menjadi dasar kebanyakan studi perang Barat modern.

Dalam kesedikitan itu bisa disebut lagi Winston Leonard Spencer Churchill (1874- 1965), negarawan dan Perdana Menteri Britania Raya, yang bersedia dan meluangkan waktu menulis biografi, My Early Life dan mahakaryanya The Second World War, gabungan antara memoir dan otobiografi tentang diri sendiri yang berasal dari tangannya sendiri. Churchill ingin menempatkan diri di tengah sejarah dan peristiwa dunia serta tidak bersedia bahwa kelak di kemudian hari ada tangan lain yang menempatkan Churchill di sana.

Dalam genre yang sama sekali lain adalah penulis Jerman abad ke-19, Karl Friedrich May (1842-1912), yang menulis tiga jilid dari yang disebutnya Reise Erzählung, Winnetou, karya utamanya, cerita perjalanan berdasarkan pengalamannya dengan suku Indian di Amerika Serikat. Dia membual dalam fiksi yang faktual dan membeberkan fakta yang fiktif tentang betapa trust dan persahabatan adalah kunci perdamaian. Dan semuanya memukau pembaca, baik tua maupun muda.

Sastrawati Inggris—novelis, profesor sastra di University College, London—AS Byatt, sama sekali tidak percaya pada biografi yang ditulis orang lain, apalagi dalam kategori “as told to” atau “sebagaimana diceritakan/dipaparkan kepada.” Tentang biografi semacam itu, dia mengatakan sebagai:

“… bentuk rusak dan upaya mengejar pengetahuan murahan. Cerita tuturan mereka yang tidak mampu menangkap penemuan kritis-sejati, cerita sederhana bagi orang yang tidak mampu menyelam lebih dalam. Bentuk rumpi … dan kekosongan jiwa yang sakit”.

Byatt tentu saja terlalu keras, karena dia hanya percaya pada otobiografi asli. Namun, kalau semata-mata itu yang dipakai hampir tidak terbuka kemungkinan mengenal orang lain.

Karya non-biografikal seorang bisa menunjuk siapa orangnya, namun divergensi antara karya dan orang begitu besar. Seorang novelis dan pemabuk, seorang penyair dan pembunuh, sastrawan dan perampok adalah kombinasi yang tidak jarang terjadi. Meskipun demikian, semuanya tidak meruntuhkan nilai sastrawi karya-karyanya. Contoh terbaik adalah Karl May yang memang mengidap penyakit mencuri, dan kelak dituduh menjadi perusak mental anak-anak muda. Semua tidak melunturkan karyanya yang begitu monumental. 

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan