Prisma

Soekarno suatu Konsep dan Bung Karno sebagai Obsesi Bangsa

Dalam kegemilangan peran sebagai nasionalis, liberator, proklamator, dan akhirnya menjadi diktator populis, siapa sesungguhnya Soekarno tidak pernah jelas bagi bangsa ini. Kekompleksan diri dan kepribadiannya menjadi halangan utama: dialah api di tengah massa, dan kuyu ketika ditekan dalam kesepian politik.

Orde Baru pernah berusaha menghapus kenangan satu bangsa terhadap Soekarno, namun umurnya hanya setahun jagung—katakanlah dari 1967-1977, kira-kira sepuluh tahun.

Lebih dari tiga puluh lima tahun silam (1977), Prisma menerbitkan dan mempersoalkan Soekarno bersama sejumlah pemimpin Indonesia lain— di tengah masa ketika menyebut nama Soekarno saja menjadi bencana besar. Prisma memecahkan kesunyian itu, pada saat berziarah ke makam Bung Karno di Blitar pun masih memerlukan surat izin Komando Distrik Militer (Kodim) setempat.

Tanpa mendaku keberhasilan pemecahan kesunyian koinsidensi yang berlangsung setelahnya sungguh menakjubkan. Makam dipugar Orde Baru pada 1979. Surat izin yang diperlukan untuk berziarah ke makam Bung Karno ditiadakan. Soekarno kembali lagi menjadi diskursus politik bangsa ini; Soekarno dipersoalkan kembali, karyanya, tidak peduli dilarang atau tidak, dibaca kembali.

Kini Prisma menampilkan lagi Soekarno— tunggal, seorang diri, dalam satu edisi—di tengah kebebasan berpikir dan penyebaran informasi. Mengatakan bahwa sama sekali bukan maksudnya untuk menghidupkan Soekarno adalah apologia berlebihan, karena Soekarno sudah hidup kembali sejak puluhan tahun. Bahkan terlalu jauh untuk mengatakan bahwa ada kebutuhan terhadap Soekarnoisme dalam abad ke-21 ini.

Dalam arti itu, Soekarno historis seolah-olah disimpan rapat-rapat dalam laci karena Soekarno kini sudah menjadi suatu konsep. Namun, pertanyaan bisa saja diajukan: konsep apa? Untuk memenuhi kebutuhan mana?

Kalau Soekarno dipahami sebagai konsep, kita tahu bahwa yang memungkinkan Soekarno menjadi pemimpin bukan karena pemahamannya yang sempurna tentang kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme, akan tetapi keefektifan pemakaiannya sebagai dasar demi pengusiran kolonialisme dan pencapaian kemerdekaan Indonesia.

Namun, semuanya kini berlangsung dalam konteks begitu berbeda dari masanya; apakah ada yang masih bisa dipertahankan? Pengisapan berlangsung dengan cara yang jauh lebih kompleks dari sekadar perhitungan meerwaarde, nilai lebih. Teknologi merevolusikan ketangguhan kapitalisme jauh melampaui apa yang dipahami Soekarno—tahun 1920-an, 1950-an, dan 1960-an. Dengan konsep yang kehilangan referensi hampir tak bisa dijelaskan mengapa Soekarno masih menjadi tempat berpaling.

Jawabannya adalah bahwa selain sebagai konsep, Soekarno adalah obsesi bangsa ini ketika pengalaman ekonomi-politiknya mendekati titiktitik ekstrem. Obsesi itu muncul seperti “Roh”, der Geist, yang menghantui bangsa ini. Ketika suatu bangsa hampir kehilangan martabat—negeri pertanian yang tidak memiliki bawang, merah dan putih; tidak mampu menyediakan cabai, rawit atau bukan; menjadi net importer beras, kacang kedelai, jagung—roh Soekarno datang.

Paham ekonomi-politik Soekarno sederhana, tidak berbelit-belit, sesederhana tuntutan bahwa apa pun sistem ekonomi, tujuan yang harus dikejar adalah agar rakyat menikmati “cukup pangan, cukup sandang, dan cukup papan.” Sistem ekonomi yang tidak bisa menghasilkan itu adalah sistem yang keliru dan salah arah, karena salah pilih. Pada saat itulah obsesi terhadap kehadiran Soekarno, roh Soekarno, datang lagi.

Ketika sistem kepartaian menjadi sistem organisasi yang semata-mata mengejar kepentingan diri sendiri dan bukan wakilnya, roh Soekarno muncul lagi—Soekarno yang membubarkan partai. Ketika dewan perwakilan rakyat tidak mewakili rakyatnya, namun tetap bising dalam riuh rendah politik kepentingan dan mengumbar nafsu korupsi, roh Soekarno muncul lagi—Soekarno yang membubarkan parlemen dalam kaitan dengan sikapnya sejak muda sampai mati yang menolak demokrasi pemilihan, meski dia percaya akan demokrasi.

Soekarno sebagai konsep dan Bung Karno suatu obsesi senantiasa bertarung tak kenal batas waktu, yang satu akan muncul bila yang lain tenggelam.•

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan