Prisma

Sosialisasi Pola Hidup Sederhana*

Berbicara tentang gagasan pola hidup sederhana biasanya membawa orang kepada penilaian mengenai pola konsumsi dan persoalan-persoalan yang ditimbulkannya, tetapi jarang mengenai proses sosialisasi: mengapa dan bagaimana suatu gaya hidup sampai berakar dalam masyarakat serta menggantikan gaya yang sebelumnya. Menilik berbagai pembahasan yang muncul sejak gagasan ini dianjurkan kembali oleh pemerintah, sebagian besar pemikiran mengenai pola hidup sederhana kelihatannya hanya sampai pada pengenalan beberapa pokok persoalan dan gejala.

Persoalan yang menonjol

Pokok pertama yang selalu menonjol dengan jelas dalam setiap pembahasan—baik dalam tulisan maupun tanggapan lainnya—adalah konstatasi mengenai gejala pola hidup dan konsumsi masyarakat yang telah berbeda dari masa sebelum akhir tahun 1960-an. Pola ini telah berubah secara kwantitatif maupun kwalitatif. Daftar kebutuhan hidup yang dahulu terbatas pada yang betul-betul pokok untuk bertahan dari hari ke hari, sekarang telah bertambah panjang dan mencakup pula hal-hal yang berfungsi semata-mata untuk menambah kenyamanan hidup. Kebiasaan dan gaya hidup juga bertukar dalam waktu yang relatif singkat menuju ke arah yang kian mewah dan berlebih-lebihan.

Gejala ini tidak sulit dibuktikan dan dapat dilihat oleh setiap orang di sekeliling dirinya masing-masing. Hampir setiap tulisan dalam pers mengenai masalah ini membawakan contoh-contoh yang baru dan menarik. Dapat dikatakan bahwa perubahan pada pola konsumsi ini terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat, kecuali yang paling rendah. Meskipun dengan kadar yang berbeda-beda, hampir tak ada golongan yang luput karena memang masyarakat itu sendiri yang sedang mengalami perubahan sebagai akibat wajar dari perkembangan ekonomi selama sepuluh tahun ini. Pembangunan bukan saja membuka kegiatan-kegiatan baru tetapi juga memungkinkan tersedianya barang dan kebiasaan konsumsi yang lebih banyak jumlah dan ragamnya serta membuka kesempatan untuk menikmatinya. Di samping adanya barang dan kebiasaan baru, berbagai kegiatan pembangunan (umpamanya: di bidang pariwisata) dan suasana “melimpah ruah” yang ditimbulkannya telah pula membangkitkan kebiasaan-kebiasaan yang mewah seperti upacara adat yang boros, tata cara penyambutan pejabat, perayaan yang makin megah, dan sebagainya.

Pokok perhatian yang kedua adalah akibat dari gejala perubahan tersebut. Umumnya terlihat kesepakatan, bahwa pola hidup yang sekarang tidak sesuai bagi masyarakat Indonesia mengingat beberapa alasan. Dari segi ekonomi, pola hidup seperti ini mengalihkan dana yang diperlukan untuk pembangunan serta menyebabkan keadaan “ekonomi biaya mahal” (high cost economy). Mengingat prospek sumber dana dan daya dukung ekonomi negara akan semakin sulit di masa depan, gejala pola hidup yang makin mewah akan mengganggu laju pembangunan selanjutnya.


* Tulisan ini dibuat sebelum pemerintah mengumumkan Paket Kebijaksanaan Moneter 15 November 1978, yang antara lain ditujukan pada penciptaan kondisi bagi pola hidup yang lebih wajar.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan