Banyak tokoh gerakan Indonesia pada awal abad XX mendalami sosialisme Eropa Barat. Dalam tulisan ini, Sediono M.P. Tjondronegoro mempersoalkan makna demokrasi dan sosialisme itu untuk masyarakat desa. Dia memandang, sudah sangat mendesak untuk menghayati pola masyarakat desa yang ciri komunalismenya kini sering tak lagi nyata kelihatan. Dalam hubungannya dengan demokrasi ekonomi, langkah pembangunan harus mampu menurunkan beban risiko jutaan petani dan pengusaha kecil yang masih menunggu tetesan hasil pembangunan tersebut.
Pengantar
Dua puluh tahun yang lampau almarhum Dr. Moh. Hatta menulis dalam bukunya Ekonomi Sosialisme Indonesia bahwa unsur sosialisme dalam masyarakat Indonesia sudah lama dikenal. Hidup bersama secara rukun di desa, saling membantu dalam kesamarataan (egalitarian) kedudukan ekonomi dianggap lebih menonjol sebagai ciri rakyat banyak.
Pada awal abad ke-20 memang banyak di antara pemimpin-pemimpin yang mempelopori gerakan nasional bangsa Indonesia tertarik pada sosialisme dan mempelajari tulisan-tulisan tokoh sosialisme Eropa Barat di mana memang sosialisme pesat berkembang menjadi tatanan masyarakat baru sebagai alternatif terhadap kapitalisme.
Sebagaimana dahulu lazim untuk cendekiawan Indonesia yang aktif dalam perjuangan emansipasi bangsa, Hatta, Soekarno, Sjahrir dan lain-lain tokoh mendalami sosialisme oleh karena mereka sungguh-sungguh mencari bentuk masyarakat bagi bangsanya yang lebih berperikemanusiaan dan adil dari pada masyarakat negeri jajahan di mana mereka kebetulan dibesarkan. Masyarakat tersebut penuh dengan ketidakadilan untuk bangsanya yang dijajah dan diperas dalam arti eksploitasi ekonomi, terasing dari pemerataan dan keadilan sosial, penjajahlah yang mengelola sistem penindasan dan berusaha keras untuk tetap mempertahankan status quo dengan rakyat pribumi. Terhadap sistem seperti itulah tokoh-tokoh pergerakan nasional kita dalam pertengahan abad ke-20 memberontak.
Sebagai eksponen cendekiawan yang berhasil mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi tokoh-tokoh seperti Soekarno, Moh. Hatta, Iwa Koesoema Soemantri, Mangoenkoesoemo, Soetomo, Sutan Sjahrir, M. Darusman, R.M. Sartono dan lain-lain, secara sadar menentang kolonialisme Barat dan mencari alternatif untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yang lebih adil dan lebih berperikemanusiaan.1
Kolonialisme berkembang sebagai suatu gejala yang erat berkaitan dengan sistem ekonomi yang dikenal sebagai kapitalisme dan bersifat ekspansif, mencari sumber daya alam yang kaya dan merebut pasaran hasil industrinya sampai jauh di luar batas negaranya sendiri. Demikianlah perkembangan yang dialami bangsa-bangsa di Asia, Amerika Latin dan Afrika.
1 J. Th. Petrus Blumberger, De Nationalistische Beweging in Nederlandsch Indie. Haarlem, H.D. Tjenk Willink & Zoon NV, 1931.