Prisma

Sosiologi Kontemporer untuk Dunia Ketiga

(M. Francis Abraham, Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991, xi + 250 halaman termasuk bibliografi dan indeks, harga Rp 7.850).

I

MODERNISASI dalam konteks Dunia Ketiga sebagai salah satu fokus utama kajian sosiologi kontemporer, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II, tampaknya masih tetap menjadi ajang perdebatan teoretis yang cukup kontroversial. Hal ini antara lain dilatarbelakangi oleh asumsi-asumsi tertentu dalam sejumlah tesis modernisasi yang umumnya didasarkan atas kerangka berpikir dikotomis: dunia belahan utara yang maju dan sisanya yang underdeveloped di selatan.

Tersirat dalam asumsi-asumsi tersebut bahwa bangsa-bangsa terbelakang dapat mengulangi transisi sejarah yang sama seperti yang pernah dilalui bangsa-bangsa maju dalam mencapai sebuah tatanan sosial modern. Metode yang direkomendasikan adalah dengan menanggalkan semua ciri yang dianggap tradisional-agraris, dan bersamaan dengan itu, mengadopsi seluruh nilai-nilai Barat sebagai suatu langkah menuju masyarakat modern-industrial. Dan dalam waktu yang relatif singkat aliran pemikiran yang berasal dari Amerika Utara ini berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah mainstream yang berpengaruh dalam lingkup ilmu-ilmu sosial pada umumnya dan sosiologi pada khususnya. Kuatnya pengaruh paradigma ini pada gilirannya mengundang respon yang cukup besar, terutama di kalangan pembuat keputusan di Dunia Ketiga non-sosialis. Respon yang muncul itu antara lain ditandai oleh dimanifestasikannya teori tersebut ke dalam praktek sosial.

Namun demikian, dari sejumlah fakta yang ada, apa yang kemudian muncul dalam kenyataan di banyak negara Dunia Ketiga adalah bahwa imajinasi untuk menjadi moderen ternyata bukanlah sebuah proses yang mulus. Proses modernisasi di belahan selatan dunia tampaknya harus mengalami penegasan struktural dan kultural yang tidak mudah dihapus begitu saja. Oleh karena itu, rentang jarak (dalam banyak hal) antara utara dan selatan — meskipun yang disebut pertama bersikeras memperpendek jarak tersebut — tetap tak terjembatani.

II

Penulis buku ini, M. Francis Abraham antara lain mengemukakan, bahwa telah tiba saatnya untuk meredefinisikan tesis modernisasi sehubungan dengan beberapa kelemahan elementer yang ada di dalamnya serta perlunya diketengahkan beberapa perspektif modernisasi yang lebih relevan dengan realitas sosial bangsa-bangsa berkembang. Dengan demikian, porsi utama dalam buku ini adalah kritik terhadap paradigma modernisasi dalam konteks Dunia Ketiga.

Dalam pandangan Abraham paradigma modernisasi yang berlangsung di Dunia Ketiga tidak lebih dari sebuah preseden sosial yang invalid, baik karena distorsi-distorsi empirik maupun karena kerancuan metodologinya. Lebih dari itu, tesis modernisasi klasik ternyata tidak mampu menghindar dari persuasi-persuasi nilai tertentu (baca: Barat) yang kerap dijadikan titik tolak dalam menarik garis pemisah antara “tradisionalitas” di belahan dunia selatan dan “modernitas” pada paruh dunia bagian utara.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan