NAMA Ronggowarsito adalah nama yang tidak asing lagi dalam pentas sastra Jawa. Ia adalah pujangga istana Surakarta yang terkenal di antara para pecinta sastra Jawa. Karena begitu hormatnya orang pada Ronggowarsito sehingga ia disebut sebagai pujangga penutup dari perkembangan sastra Jawa. Arti penutup di sini sama dengan istilah Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dalam Islam. Meskipun ia terlibat intens dengan penulisan-penulisan sastra suluknya, namun Ronggowarsito menempatkan dirinya tidak hanya sekedar pujangga kraton saja.
Ronggowarsito lahir pada tanggal 18 Maret 1802.1 Ia lahir dengan nama Bagus Burham, anak dari Mas Bei Pajangswara, carik kadipaten Anom yang juga seorang Raden. Kakek dan kakek buyutnya adalah pujangga-pujangga Keraton Surakarta. Kakeknya, Raden Tumenggung Sastronagoro, bergelar Raden Ngabehi Ronggowarsito I ketika berpangkat Panewu Carik dan ketika naik pangkat menjadi Kliwon bergelar Yosodipuro II. Yosodipuro II dikenal sebagai pengamat politik yang tajam. Karya-karyanya kaya dengan ajaran moral seperti Serat Sana Suni yang berisi pandangan etik Jawa yang berlandaskan ajaran Islam, juga pada karya Dasanama Jarwa dan Wicara Keras.
Sementara Yosodipuro I, kakek buyut Ronggowarsito, dikenal sebagai bapak Renaisan sastra Jawa. Ia meninggal pada tahun 1802, beberapa lama setelah kelahiran Ronggowarsito. Banyak karya-karya sastra jaman Hindu yang disalinnya dan ia sendiri terpengaruh ajaran tasawuf Karim al Jili dan Imam Gazali.2 Beberapa karyanya antara lain Serat Cebolek, Serat Bratayuda, Serat Menak, Panitisastra, Serat Rama dan Babad Giyanti.
Sumber-sumber yang jelas tentang riwayat Ronggowarsito cukup sulit didapatkan. Beberapa sumber yang ditulis para pengikutnya sulit dipertanggungjawabkan validitasnya karena umumnya sumber-sumber ini telah diberi interpretasi oleh pengikut yang mengaguminya.3
Silsilah yang ada dapat sedikit menggambarkan kehidupan Ronggowarsito yaitu sejak kanak-kanak ia dibesarkan dan dididik oleh kakeknya. Tidak jelas bagaimana hubungan Ronggowarsito dengan ayahnya. Konon, sebelum Yosodipuro I meninggal, ia berpesan pada Yosodipuro II, bahwa Bagus Burham (Ronggowarsito) suatu hari akan menjadi pujangga. Yosodipuro II menginginkan agar Ronggowarsito mendapat pendidikan yang setingkat dengan Yosodipuro I. Pada usia 12 tahun Ronggowarsito dimasukkan ke pesantren Tegal Sari, di padepokan Gerbang Tinatar, Ponorogo. Di sana Ronggowarsito menjadi santri Kyai Imam Hasan Besari, seorang guru agama yang juga ahli kebatinan berdarah priyayi. Dengan ditemani abdi setia Yosodipuro II, Ki Tanujoyo, ternyata Ronggowarsito tidak mengalami kemajuan belajar bahkan tidak menunjukkan kemauan belajar. Ada beberapa alasan penyebab mengapa Ronggowarsito tidak maju dalam belajarnya. Pertama, ia menyukai permainan judi seperti menyabung ayam dan mengadu kemiri. Ki Tanujoyo tidak menegurnya malah memanjakannya. Kedua, Ki Tanujoyo dikatakan sering menunjukkan kemampuan berhubungan dengan makhluk halus kepada Ronggowarsito sehingga mengganggu proses pendidikannya.
Dengan sosok Kyai Hasan Besari sebenarnya pesantren Tegal Sari telah banyak melahirkan tokoh-tokoh priyayi dan negarawan di samping ulama, namun Ronggowarsito pada masa itu kabur beberapa saat dari pesantren karena kenakalannya. Sebagai catatan, banyak orang menganggap bahwa pesantren sejak jaman kerajaan Demak merupakan media pendidikan yang paling teratur dan ideal di Jawa. Karenanya dalam serat-serat babat, Wali Pulau Jawa, di samping sebagai guru pesantren juga merupakan leluhur yang amat dimuliakan para raja dan priyayi Jawa.4 Sehingga pesantren lalu menjadi titik temu jalur priyayi dan agamawan. Posisi dan peranan pesantren yang strategis ini oleh Ronggowarsito semula tidak diindahkan bahkan dalam berbagai hal ia justru mendapat banyak tekanan batin di pesantren ini.
1 Kelahirannya bertepatan dengan hari Senin Legi, 10 Dzulkaidah tahun 1728 Jawa. Tentang hari lahir Ronggowarsito tidak ada pertentangan di antara peneliti-peneliti Ronggowarsito. Lihat Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ronggowarsito: Suatu Studi Terhadap Wirid Hidayat Jati. UI-Press, Jakarta, 1988, hal. 34. Lihat Anjar Any, Raden Ngabehi Ronggowarsito: Apa Yang Terjadi?, Aneka Ilmu, Semarang, 1990, hal. 10. Lihat juga Kamajaya, Pujangga Ranggawarsita, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta, 1980, hal. 13. Hari lahir Ronggowarsito juga diceritakan dalam babad Lelampahanipun Raden Ngabehi Ronggowarsito yang diterbitkan dalam dua jilid buku ketika diadakan peringatan 60 tahun wafatnya Ronggowarsito di Societeit Mangkunegaran. Babad ini ditulis dalam huruf Jawa dicetak oleh Drukkerij MARS Surakarta.
2 Lihat Abdul Hadi W.M., Sastra Sufi: Sebuah Antologi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1985, hal. 296.
3 Interpretasi itu misalnya melebih-lebihkan Ronggowarsito sebagai pujangga yang “keramat” dan cenderung mengarah pada pemitosan.
4 Simuh (1987), “Aspek Mistik Islam Kejawen Dalam ‘Wirid Hidayat Jati’ “, dalam Ahmad Rifa’i Hasan (ed.), Warisan Intelektual Islam Indonesia, Mizan, Jakarta, 1987, hal. 62.