Prisma

Status dan Persepsi Wanita Terhadap Masalah Kependudukan

Perempuan itu cuma wajib mengurus rumah tangga, dan mendidik anak-anaknya. Anak gadis itu dididik supaya menjadi budak orang laki-laki. Pengajaran dan kecerdasan dijauhkan dari padanya. Kebebasan tiada padanya. R.A. Kartini

Sejak kalimat-kalimat di atas ditulis Raden Ajeng Kartini kepada Nona Zeehandelaar pada tahun 1900, dan terlebih sejak jaman kemerdekaan, telah banyak terjadi perubahan terhadap kehidupan wanita Indonesia. Baik karena hasil perjuangan para wanita maupun karena keadaan sosial memang berubah, banyak wanita mendapat berbagai kesempatan baru dalam lapangan pendidikan, pekerjaan baru, malah menduduki jabatan-jabatan penting. Khusus dalam hal yang menyangkut kependudukan dapat dicatat tokoh-tokoh wanita yang turut merintis gerakan keluarga berencana di Indonesia, umpamanya Nyonya Nani Suwondo SH, dr. Hurustiati Subandrio, Nyonya Djoewari, dr. Koen Martiono dan lain-lain.1 Sejak program keluarga berencana Pemerintah Indonesia dimulai 6 tahun yang lalu (1969) partisipasi wanita cukup besar dalam pelaksanaannya pada berbagai bidang, yakni dalam peranannya sebagai motivator, pelayanan keluarga berencana dan sebagai administrator.

Terdapat anggapan umum bahwa para wanita lebih tertarik kepada keluarga berencana daripada pria karena beberapa alasan. Wanita menanggung berbagai hal yang tidak menyenangkan sehubungan dengan kehamilan, melahirkan dan merawat anak. Bagi sebagian wanita kehamilan berarti mempertaruhkan kesehatan, malah mungkin nyawa. Wanita menghadapi risiko yang lebih besar daripada laki-laki dalam hal membuahkan anak (prokreasi). Sehubungan dengan itu sering timbul anggapan bahwa laki-laki menunjukkan tanggung-jawab yang kurang semestinya. Hubungan sex cenderung dianggap sebagai pemenuhan kepuasan suami yang kurang dapat dikekang. Sejalan dengan itu baik cara-cara kontrasepsi dan penerangan-penerangan yang berhubungan dengan usaha motivasi cenderung pula diarahkan kepada wanita. Dianggap bahwa wanita jauh lebih mudah menerima usaha-usaha penjarangan kehamilan dan pembatasan kelahiran daripada suami mereka. Dr. Mayone Stycos telah memberikan kritik yang tajam terhadap sikap dan pendekatan yang demikian dengan mengatakan bahwa pendekatan Perkumpulan Keluarga Berencana memiliki kelemahan berupa the feminist bias dan the middle class bias.2


1 Pada tingkat internasional terdapat serentetan tokoh besar wanita di dalam gerakan keluarga berencana ini, seperti Margaret Sanger, Marie Stopes, Annie Besant dan Lady Rama Rao.

2 Mayone J. Stycos, “Kritik terhadap Pendekatan Parenthood Terencana Tradisional di Daerah Terbelakang”, dalam Clyde V. Kiser (ed.), Penelitian dalam Keluarga Berencana, (Princeton: Princeton University Press, 1962), hal. 477-502.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan