Faktor internal dan lingkungan eksternal mempengaruhi perkembangan ekspor Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Produk bukan migas, terutama produk industri, memberikan kontribusi besar kepada ekspor Indonesia. Ini berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah ke arah terciptanya iklim dunia usaha yang berorientasi ekspor. Situasi dalam negeri ini berkembang selaras dengan berbagai kecenderungan. Dalam tata perekonomian luar negeri Indonesia perlu menentukan langkah-langkah yang tepat untuk berkiprah dalam kompetisi bisnis internasional, baik makro maupun mikro.
Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan ekonomi Indonesia semakin ditandai oleh meningkatnya peranan sektor luar negeri. Perdagangan luar negeri Indonesia diwarnai oleh ekspor yang semakin meningkat dengan produk-produk bukan migas, terutama produk industri, yang semakin memegang peranan penting. Perkembangan yang pesat tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya Pemerintah dalam mendorong terciptanya iklim dunia usaha yang pada umumnya diarahkan kepada kegiatan ekspor. Di samping itu, perkembangan tersebut berkaitan pula dengan kejadian di berbagai bagian dunia, baik yang bersifat jangka pendek maupun kecenderungan yang bersifat jangka panjang.
Dalam tulisan ini, akan dibahas permasalahan yang berkaitan dengan kompetisi bisnis internasional, baik yang bersifat makro maupun yang lebih bersifat mikro. Pertama akan dibahas ruang lingkup dari strategi kompetisi bisnis internasional; kemudian dilanjutkan dengan perkembangan yang terjadi dalam lingkungan ekonomi internasional. Dalam pembahasan ini juga akan disinggung beberapa tipe strategi di dunia internasional; pertama, strategi yang banyak dianut di Amerika Serikat dan Inggris; kedua, strategi yang menjadi mainstream di Jepang dan Jerman. Akhirnya akan dicoba disinggung langkah-langkah yang akan ditempuh Indonesia dalam kompetisi bisnis internasional.
Perkembangan dunia bisnis dewasa ini telah sedemikian rupa sehingga batas negara pada akhirnya menjadi sesuatu konsep yang semakin kabur. Kegiatan bisnis telah banyak melintasi batas negara dengan berkembangnya proses globalisasi perekonomian dan perkembangan tersebut digambarkan oleh Kenichi Ohmae, pakar ekonomi dan management Jepang, sebagai “the borderless world.”1^
Pada dewasa ini globalisasi tersebut tampak nyata dalam bidang keuangan, produksi dan perdagangan. Dalam bidang keuangan, globalisasi tampak jelas dengan berkembangnya transaksi keuangan yang berjalan secara terus menerus selama 24 jam dengan melibatkan peserta dari seluruh dunia. Bahkan sekarang semakin banyak bank, lembaga keuangan dan peserta lainnya bekerja sama 24 jam terus menerus untuk mengikuti dan melibatkan diri dalam pasar uang di seluruh penjuru dunia. Dalam bidang produksi, semakin banyak perusahaan yang memiliki jaringan produksi dan afiliasi, sehingga sesuatu produk dapat dikerjakan di berbagai tempat secara simultan. Misalnya, satu setel baju yang terdiri dari tiga bagian (three pieces) bagian atasnya dapat dikerjakan di Hongkong, bagian tengah di Jakarta dan bagian bawah di Italia untuk pada akhirnya disatukan di New York. Banyak contoh lain yang pada dasarnya mendukung adanya fenomena globalisasi produksi tersebut. Terlebih lagi dengan adanya relokasi industri, maka tercipta pula basis-basis produksi yang pada akhirnya lebih meningkatkan arus perdagangan dunia. Dalam bidang perdagangan, globalisasi menjadi semakin nyata dengan meningkatnya lalu lintas barang dari satu tempat ke tempat lain di seluruh penjuru dunia.
Dalam proses globalisasi produksi, kegiatan pada umumnya dilakukan baik melalui investasi oleh suatu perusahaan ke tempat-tempat lain di luar negeri maupun melalui afiliasi dengan perusahaan-perusahaan lain di luar negeri yang memiliki bisnis dimaksud. Karena itu, terjadi perpindahan dari faktor produksi, yaitu berupa modal (movement of factor of productions). Dalam hal globalisasi perdagangan, kegiatan bisa secara konvensional dilakukan dari dalam negeri dengan melakukan ekspor dan melalui unit produksinya yang sudah didirikan di luar negeri. Untuk kegiatan perdagangan yang dikerjakan di dalam negeri maka statistik ekspor akan memberikan gambarannya. Di sini terjadi perpindahan barang dari satu tempat ke tempat lain (movement of goods).
Dalam perkembangan dewasa ini, perdagangan jasa-jasa semakin penting, yang saat ini masih didominasi oleh negara-negara maju. Dalam perkembangan ini, selain perdagangan berlangsung antar negara (cross border trade), pada umumnya dunia usaha lebih cenderung untuk membuat unit usaha di negara yang ingin dituju. Perkembangan ini akan mewarnai perekonomian dunia di masa-masa mendatang, mengingat kegiatan di bidang ini merupakan kegiatan tertier yang pada umumnya diyakini sebagai kelebihan negara maju dewasa ini. Karena itu, desakan-desakan bagi masuknya kegiatan usaha di bidang telekomunikasi, perhubungan, konstruksi, konsultasi, keuangan dan sebagainya akan menjadi gejala yang umum pada masa mendatang.
Terdapat berbagai motivasi mengapa suatu perusahaan ingin melakukan investasi di negara lain, baik berupa penanaman modal langsung maupun portfolio investment, yaitu melalui pasar modal. Pada dasarnya alasan tersebut berkaitan dengan besarnya keuntungan (rate of returns) yang dapat dicapai oleh perusahaan tersebut dari investasinya di tempat yang baru. Dari suatu laporan Departemen Perdagangan Amerika Serikat, disebutkan bahwa dari perusahaan US yang beroperasi di negara-negara Asia Tenggara, memang diperoleh suatu kesimpulan bahwa rate of returns investasi mereka di Asia Tenggara cukup tinggi sehingga memberikan daya tarik yang besar kepada mereka untuk melakukan investasi di Asia Tenggara. Dalam laporan tersebut, return yang diperoleh investasi Amerika di Singapura pada tahun 1991 adalah sebesar 26%, Malaysia 30%, Muangthai 22%, Filipina 16% sedangkan Indonesia menduduki tempat tertinggi yaitu 48%. Hal ini tentunya memberikan daya tarik tersendiri bagi investor Amerika Serikat untuk melakukan investasi di Indonesia. Motivasi lain untuk melakukan penanaman modal langsung di negara lain adalah untuk mendekatkan diri dengan pasar. Dalam hal ini, banyak penanaman modal yang dilakukan di Cina akhir-akhir ini karena melihat adanya potensi pasar yang besar, baik dilihat dari jumlah penduduknya maupun pendapatan yang semakin meningkat. Bagi industri-industri tertentu, investasi langsung dilakukan menerobos hambatan-hambatan perdagangan yang dilakukan oleh banyak negara, terutama Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa. Sebagai contoh, banyak industri mobil Jepang yang melakukan investasi di A.S dan Eropa untuk menghindarkan diri dari Voluntary Export Restraints.
* Makalah ini pernah disampaikan pada Kursus Pimpinan dan Gabungan BUMN IV, Lemhanas, 18 Mei 1993. 1 Lihat Kenichi Ohmae, The Borderless World, London, Harper Collins, 1990.