Tulisan ini pada mulanya adalah naskah penulis untuk ceramah di Pusat Sejarah ABRI, 25 Juli 1988; dan disajikan di sini sebagai tanggapan untuk isi “Dialog”, Prisma No. 5/88, wawancara dengan Dr. Nurcholish Madjid, khususnya untuk bagian yang membicarakan keterangan penulis mengenai “perang melawan DI.”
WAKTU saya menyiapkan ceramah untuk Pusat Sejarah ABRI mengenai Darul Islam ini, saya bertanya kepada diri saya: “Apakah yang dapat saya katakan mengenai Darul Islam yang akan ada manfaatnya bagi Pusat Sejarah ABRI?” Saya tentu tidak dapat diharapkan akan mengemukakan data mengenai masalah Darul Islam, yang tidak dimiliki Pusat Sejarah ABRI. Data yang terdapat di Pusat Sejarah ABRI tentunya jauh lebih lengkap daripada yang saya miliki.