Prisma

Suatu Tinjauan Mengenai Beberapa Gerakan Sosial di Jambi pada Perempatan Pertama abad ke 20*

Kedatangan bangsa Belanda yang kemudian menanamkan kekuasaannya melalui penjajahan di Indonesia, pada awalnya telah menimbulkan reaksi perlawanan rakyat. Perlawanan ini muncul di berbagai tempat dan dalam berbagai bentuk, ada yang secara sporadis tanpa organisasi, tetapi ada pula yang muncul dalam bentuk gerakan-gerakan sosial yang berencana dan terorganisir. Dalam tulisan ini Yang A. Muttalib menguraikan tentang gerakan-gerakan sosial di Jambi pada awal abad ke-20; khususnya pemberontakan tahun 1916. Seperti juga gerakan-gerakan serupa di berbagai daerah Indonesia lainnya, gerakan-gerakan sosial di Jambi pada waktu itu masih mengandung unsur-unsur mesianisme.

Pendahuluan

Meskipun tidak dapat disamakan dengan Perang Aceh dalam jumlah pertempuran dan jumlah korban yang jatuh, Perang Jambi pun adalah juga perlawanan melawan Belanda yang berlangsung lebih dari setengah abad (1858-1907).1

Perang itu dimulai ketika Sultan Taha Saifuddin yang menaiki takhta pada tahun 1855 menolak untuk menandatangani perjanjian yang dipaksakan oleh Belanda. Ketika Jambi diserang pada tahun 1858 Taha beserta Orang-orang Besar-nya berpindah ke pedalaman. Sedangkan di kuala Belanda membentuk suatu kesultanan baru dengan paman Taha sebagai sultan. Tetapi segera disadari oleh Belanda bahwa kesultanan yang di pedalaman itulah yang diakui oleh rakyat Jambi. Jambi sebagai dua kekuasaan politik secara de facto diakui oleh Belanda tetapi tidak oleh Taha dan Orang-orang Besarnya.

Terjadi berkali-kali penyerangan terhadap kekuatan Belanda di kota Jambi terutama di tahun 1870-an dan 1880-an. Belanda sendiri pada masa itu belum berdaya untuk melancarkan ofensif. Barulah sejak 1900 setelah Perang Aceh memperlihatkan tanda-tanda ke arah penyelesaian, maka perhatian dialihkan ke Jambi dan politik praktis Snouck Hurgronje dan taktik perang van Heutz diterapkan pula di sini.2 Hasilnya: walaupun masih berlangsung hingga 1907 perlawanan Jambi praktis telah dapat dipatahkan oleh Belanda pada tahun 1904 dengan tewasnya Taha.

Perlawanan yang lebih dari setengah abad itu telah meninggalkan kesan yang mendalam di kalangan rakyat Jambi-terutama di pedalaman-berupa semangat anti-kafir yang tebal. Dan semangat ini telah menjiwai pemberontakan-pemberontakan yang terjadi sesudah penaklukan dan mencapai puncaknya pada tahun 1916. Perlawanan-perlawanan ini sendiri adalah reaksi terhadap perubahan yang berlaku sejak permulaan abad ke-20. Studi yang singkat ini akan berusaha memahami proses perubahan itu dalam segala aspeknya: politik, sosial dan ekonomi. Walaupun tekanan di sini adalah pada masalah pemberontakan 1916 tetapi akan diuraikan juga beberapa perlawanan kecil sebelumnya untuk melihat ciri-ciri yang berlainan dari masing-masing perlawanan itu. Dengan demikian dapat kita lihat tahap-tahap perkembangan gerakan sosial di Jambi di perempatan pertama abad ke-20


* Oleh karena tulisan ini didasarkan pada sumber primer berupa bahan arsip yang jumlahnya banyak sekali maka hanya beberapa dokumen yang penting saja yang akan disebutkan dalam catatan kaki.

1 Masa ini disebut oleh orang Belanda sebagai masa Djambi Oorlog. Lihat E.B. Kielstra, Indische Nederland, 1910, hal. 243 dan J. Tideman, Djambi 1938, hal. 300.

2 E.S. de Klerck, Sejarah Hindia Belanda 1938, Vol. 2, hal. 432-433, 440-443.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan