Prisma

Subkultur dan Transformasi Perlawanan Anak Muda Underground[i]


[i] Artikel ini merupakan ringkasan dari tesis doktoral penulis yang berjudul “Transformations of Youth Resistance: Underground Music Scene and Islamic Politics in Post-Authoritarian Indonesia” (Perth, Australia: Murdoch University, 2022). Saya berterima kasih kepada Dr Ian Wilson, Dr Jacqui Baker, Prof David T Hill dari Asia Research Centre, Murdoch University yang telah membantu saya dalam proses penulisan tesis PhD ini, begitu pula kepada Prof Vedi R Hadiz dan Dr Jane Hutchison yang pernah menjadi Komite Penasihat selama proses penelitian dan penulisan tesis ini berjalan.

Pasca-Reformasi mengubah ideologi anak muda underground yang sebelumnya berorientasi sekuler, progresif, dan bahkan kiri, menjadi konservatisme Islam dan Islamisme sayap kanan. Berbeda dengan berbagai penelitian dan analisis sebelumnya yang cenderung mengabaikan anak muda dan hanya menyoroti organisasi-organisasi keagamaan formal dalam penyebaran kecenderungan konservatisme Islam, artikel ini berupaya menjelaskan struktur sosial dan kondisi material yang memengaruhi perubahan ideologis anak-anak muda, khususnya mereka yang tumbuh besar dalam lingkungan komunitas underground. Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan tersebut, antara lain, seperti kekecewaan dan demoralisasi karena stagnasi politik di masa pasca-Soeharto, penindasan berkelanjutan terhadap dan kooptasi aktivis kiri oleh negara dan kelompok sayap kanan, komersialisasi praktik-praktik subkultur underground, ketimpangan sosial, kurangnya akses pada ekonomi yang layak, polarisasi, fragmentasi, nihilisme, dan stagnasi dalam skena musik underground.

Kata Kunci: Pasca-Soeharto, Islamisme, konservatisme, musik underground, Subkultur

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan