Prisma

Sukarno: Mitos dan Realitas*

Sukarno adalah pribadi yang kompleks. Dia dilahirkan di bawah bintang Gemini yang menurut pendapatnya sendiri memberi corak yang beraneka-warna pada pribadinya. Persoalan Sukarno erat sangkut pautnya dengan persoalan bangsa kita sendiri. Pada masa puncak-puncak kekuasaannya, Sukarno digelari Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Aminul Amri, Panglima Tertinggi, dan lain-lain. Dan tiba-tiba semua gelar-gelarnya dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan. Malahan dia diejek. Persoalannya kini bukan saja “siapakah Sukarno” akan tetapi “siapa sebenarnya kita dahulu dan siapa kita sekarang?” Apa dahulu kita yang munafik atau sekarang kita munafik? Apa kita semua bersifat Gemini?

Ada berbagai pandangan sarjana luar negeri yang turut memikirkan Sukarno dan kita. Yang menyolok di antara mereka adalah Bernard Dahm.1 Teorinya adalah bahwa Sukarno tidak lain daripada seorang tokoh dalam tradisi Ratuadil-Ratuadil di Indonesia yang untuk sementara dapat menghipnotis masyarakat. Dengan cara sophisticated dia berusaha menjelaskan teori ini. Dan pula ada orang-orang bodoh yang juga melihat Sukarno sebagai satu-satunya penyebab revolusi Indonesia. Bagi kaum reaksioner ini berarti bahwa kalau saja momok revolusi bisa dihilangkan maka revolusi Indonesia akan selesai. Pihak-pihak reaksioner yang dimaksudkan adalah Belanda. Maka sayang kata mereka bahwa pada waktu itu tidak atau tidak mampu “men-Diponegoro-kan” Sukarno. Kaum reaksioner inilah yang lalu membuat legenda Sukarno. Dikatakan bahwa Sukarno sebenarnya seorang Indo atau mempunyai darah Belanda sebab tanpa ini tentu tidak bisa melakukan kerja raksasanya.

Ada sarjana-sarjana yang melihat Sukarno sebagai seorang Ratu Jawa yang berpeci, pemimpin tradisionil dalam bentuk modern. Spekulasi-spekulasi ini memang menarik dan masih akan merupakan perdebatan yang tak berakhir.

Di sini saya akan berusaha menempatkan Sukarno dalam perkembangan sejarah Indonesia yang terakhir–artinya selama bergeraknya Sukarno sampai akhir kepresidenannya. Saya akan berusaha untuk meneliti pemikiran-pemikiran Sukarno dalam rangka pertumbuhan pergerakan nasional Indonesia, sebab antara Sukarno dan zamannya selalu ada semacam dialektik, hubungan timbal balik. Saya akan melihat kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya, serta peranannya dalam pergerakan, revolusi dan zaman kemerdekaan.

* Dalam mempersiapkan tulisan ini saya mengadakan wawancara dengan Dr. Mohamad Hatta, Dr. Ruslan Abdulgani. Juga mengadakan serangkaian diskusi mengenai Sukarno dengan tokoh seperti Sudjatmoko, Karjoso SH dan lain-lain. Kepada mereka saya mengucapkan terimakasih untuk segala macam bantuan. Namun, segala pendapat dalam tulisan ini adalah tanggung jawab saya sendiri.


* Dalam mempersiapkan tulisan ini saya mengadakan wawancara dengan Dr. Mohamad Hatta, Dr. Ruslan Abdulgani. Juga mengadakan serangkaian diskusi mengenai Sukarno dengan tokoh seperti Sudjatmoko, Karjoso SH dan lain-lain. Kepada mereka saya mengucapkan terimakasih untuk segala macam bantuan. Namun, segala pendapat dalam tulisan ini adalah tanggung jawab saya sendiri.

1 Bernhard Dahm, Soekarno En De Strijd Om Indonesie’s Onafhankelijkheid, (terjemahan dari Bahasa Jerman) J.A. Boon & Zoon-Meppel-1964. Biografi Soekarno lain adalah: J.D. Legge, Sukarno, A Political Biography, Pelican Book: Political Leaders of the Twentieth Century.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan