
Putu Oka Sukanta, Selat Bali, Sajak-sajak buat Burung Camar, (Jakarta: Inkultra Foundation Inc; 1982).
Dalam suatu survei tentang Kesusastraan Indonesia moderen yang diterbitkan buat publik internasional pada tahun 1978, Boen Oemarjati mengajukan pendapat bahwa puisi Indonesia pada waktu itu memasuki suatu rentangan waktu di mana “aspek komunikatif” sudah menjadi “sekunder”, dan “sudah tidak lagi menjadi dasar penulisan puisi dan drama kami yang paling mutakhir”. Puisi memandang sebagai tujuannya sebagai penikmatan, hiburan estetik demi dirinya sendiri, bukan lagi komunikasi. (Lihat H. Soebadio dan C.A. du Marchie Sarvaas, Dinamika Sejarah Indonesia, hal. 336). Apakah ini mewakili suatu gambaran tentang kecenderungan umum seutuhnya atau tidak dalam puisi Indonesia pada akhir tahun 1970-an (Boen Oemarjati sendiri mengacu kepada “kecenderungan-kecenderungan lain yang lebih akrab tentang bidang kesusastraan”) jelaslah sekarang bahwa, pada awal tahun 1980-an, harus dibuat gambaran yang berbeda dari itu. Tuduhan Rendra pada bulan Juni 1981, bahwa kebanyakan kesusastraan Indonesia moderen adalah “sastra ‘klangenan’ atau penghibur, bukan sastra yang berpikir”, dan himbauannya bagi sastra yang lebih dari sekedar “hadir” di dalam masyarakat, adalah petunjuk bagi suatu reaksi yang terjadi di dalam lingkaran kesusastraan Indonesia terhadap jenis kesusastraan sebagaimana dilihat oleh Boen Oemarjati sebagai ciri dunia puisi Indonesia pada akhir tahun 1970-an. (Lihat Kompas, 30.6.81).