Tidak bisa dimungkiri, sains dan pengetahuan penyandang disabilitas dan lansia (DILANS) belum sepenuhnya berkembang dan sporadis di berbagai perguruan tinggi dan berbagai lembaga penelitian. Mungkin situasi itu tidak mengherankan kalau pada akhirnya berbagai kebijakan dan intervensi pengembangan program tidak sepenuhnya dapat menjawab secara efektif berbagai persoalan yang dihadapi. Apalagi kalau keberpihakan yang menyeluruh tidak tampak dalam pengembangannya, termasuk keterlibatan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Data salah satunya.
Sering mengemuka dalam perbincangan, namun tak sepenuhnya tuntas diselesaikan dengan berbagai alasan. Salah satu di antaranya sumber daya yang terbatas. Namun, empat sumber data yang selalu dipakai dalam pengambilan kebijakan: SUSENAS/Supas (BPS), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS, Kemensos), Kemiskinan Ekstrem dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek, Bappenas)1 belum sepenuhnya memenuhi panduan yang disarankan Washington Group on Disability Statistics.2 Dengan demikian, jumlah disabilitas yang didata tidak akurat dan tidak menggambarkan semua ragam disabilitas.
Upaya menyeluruh dalam membenahi data merupakan salah satu yang saat ini dikembangkan DILANS Indonesia dengan mengajak berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Prodi Geodesi dan Geomatika ITB salah satu yang berpartisipasi dalam pengembangan model pemetaan partisipatif berbasis geospasial, termasuk kajian aksesibilitas, audit dan verifikasi infrastruktur. Sejak tahun 2022, penelitian dilakukan di Kecamatan Sumur Bandung, kawasan ring-1 Kota Bandung sebagai areal kolaboratif multipihak berbasis komunitas, Sumur Bandung Inclusive District Platform (SBIDP).
1 Lihat, https://sepakat.bappenas.go.id/regsosek-dashboard/(diakses 15 November 2024).
2 Lihat, https//www.washingtongroup.disability.com (diakses 15 November 2021).