I
Hampir semua harian, mingguan atau bulanan menyediakan satu ruangan khusus untuk menampung surat-surat yang dikirim para pembaca. Aneka-ragam judul diberikan untuk ruangan ini.1¹ Meskipun judulnya beraneka-ragam tetapi fungsi ruangan itu sama saja: sebagai media penyalur informasi dari pembaca baik untuk pengasuh di satu pihak maupun para pembaca di pihak lain, sebuah wadah di mana berlangsung semacam korespondensi surat menyurat yang mengasyikkan dalam dunia persuratkabaran. Di sana terdengar suara, jeritan, teriakan atau bisikan halus dan gema suara-suara itu bukan seperti angin yang bertiup di gurun tanpa respons dari pelbagai pihak yang memiliki kesamaan atau perbedaan dalam minat, pandangan, sikap dan lain-lain. Di sana pula terlihat adanya jalinan hubungan yang hidup dan bermanfaat antara pengasuh suratkabar dengan masyarakat luas. Jalinan itu semakin intensif dan kreatif oleh peningkatan volume informasi yang mengarus, baik dari pembaca maupun pers.
Pada mulanya ruangan untuk surat-surat pembaca ini diadakan terutama untuk memperoleh saran, kesan atau pesan pembaca, agar pers bisa lebih mudah mengadakan kritik diri hingga lebih mampu berperan sebagai pelayan berita. Tetapi bahwa para pembaca menggunakan media pers untuk menyatakan pendapat atau kesan pribadi kepada masyarakat luas, ini merupakan perkembangan baru dari ruangan surat-pembaca sekarang.
Bila surat-pembaca dapat diandaikan sebagai bentuk kritik sosial maka serangkaian pertanyaan akan timbul berhubungan dengan peranannya yang baru dalam dunia pers. Apakah fungsi kritis dari surat-surat pembaca menyamai peranan lembaga universitas, dewan perwakilan rakyat, organisasi pemuda atau kekuatan sosial-politik lainnya? Ataukah kritik sosial yang dilancarkan anggota masyarakat lewat surat-pembaca membawa efek atau gema yang berlainan bila disalurkan lewat forum-forum lain? Seberapa jauh validitas atau evidensi sosial yang dikandung dalam surat-surat pembaca yang biasanya berupa jalinan beberapa kalimat pendek dan ringkas? Berapa besar kemampuan teriakan yang terekam dalam surat pembaca sehingga membawa gema dan gaungan perubahan sosial secara cepat atau perlahan-lahan? Di mana terletak keunikan surat-pembaca yang mengkarakterisir kritik-kritik sosial yang berasal dari sana? Seberapa jauh orisinalitas kritik-kritik sosial dipertahankan pengasuh pers sebagai cermin hati nurani masyarakat? Dan seberapa jauh pula perusahaan pers mengaburkan keaslian kritik-kritik sosial dari masyarakat dan “memboncengi” kritik-kritik masyarakat untuk mencapai sasaran-sasaran di luar maksud dari para kritisi sosial itu?
1 Harian-harian ibukota memberikan berbagai judul untuk ruangan surat-pembaca seperti Merdeka dengan “Surat Pembaca”; Kompas dengan “Redaksi Yth”; Berita Buana dengan “Pikiran Pembaca”; Suara Karya dengan “Surat Pembaca” (sama dengan Merdeka); Sinar Harapan dengan “Kontak Pembaca”; Pelita dengan “Pembaca Menulis”; Pos Kota dengan “Kesan dan Pesan Para Pembaca”; The Indonesian Times dengan “Letter to the Editor”. Sedangkan Mingguan Tempo dengan “Surat” dan “Komentar”; bulanan Prisma mempunyai ruangan “Kritik dan Komentar”. Masih terdapat judul-judul lain dari media pers lain yang tidak dicatat di sini.