Berbicara mengenai peta bumi persuratkabaran di Indonesia dewasa ini, maka masalahnya tidak terlepas dari perkembangan keadaan suratkabar nasional dan daerah1 dari masa ke masa. Gambaran sirkulasi suratkabar harian di Indonesia pada tahun 1954, menunjukkan bahwa pada waktu itu suratkabar daerah masih berada di atas suratkabar terbitan ibukota, baik dalam hal jumlah penerbitannya ataupun dalam hal oplah.
Jumlah suratkabar daerah yang terbit pada masa itu 63 buah, dengan oplah sekitar 321.650 eksemplar. Jumlah suratkabar terbitan ibukota 15 buah. Jumlah keseluruhan oplahnya 188.500 eksemplar. Dari data itu terlihat bahwa perbandingan antara jumlah penerbitan suratkabar daerah-ibukota adalah 4 : 1, sedangkan perbandingan oplahnya 2 : 1.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya keadaan itu berubah menjadi terbalik.
Suratkabar daerah secara berangsur-angsur semakin merosot, baik dalam hal jumlah penerbitan ataupun oplahnya. Di pihak lain suratkabar nasional/ibukota semakin maju pesat terutama sekali dalam hal jumlah oplah. Sirkulasi suratkabar ibukota telah sampai ke daerah-daerah dan mendominir peredaran suratkabar di seluruh Indonesia. Dalam perebutan mencari khalayak pembaca, suratkabar daerah kalah bersaing dan semakin terdesak.
Menurut data hasil penelitian PT Inter Vista, diperoleh gambaran bahwa jumlah oplah suratkabar harian yang tersebar di Indonesia pada awal 1978 seluruhnya sekitar 1.740.500 eksemplar. Dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1975 (menurut catatan Dirjen Pers dan Grafika Departemen Penerangan jumlah oplah suratkabar harian pada tahun 1975 sekitar 1,5 juta eksemplar), berarti mengalami kenaikan sejumlah 240.500 eksemplar. Namun, ternyata penyebarannya tidak seimbang. Jumlah seluruh oplah suratkabar harian terbitan ibukota sekitar 1.084.000 eksemplar. Sedangkan jumlah oplah seluruh suratkabar daerah hanya sekitar 650.500 eksemplar.
Angka-angka ini akan lebih banyak berbicara lagi tentang keprihatinan suratkabar daerah apabila kita melihat peredarannya. Dari seluruh jumlah oplah suratkabar tersebut, sebagian terbesar beredar di daerah ibukota Jakarta. Yaitu sekitar 638.000 eksemplar. Sisanya, sekitar 1.102.500 eksemplar tersebar di seluruh daerah di luar Jakarta (ini pun sebagian besar terpusat di ibukota propinsi).
Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk, ini berarti untuk daerah Jakarta 1 suratkabar untuk 10 orang (perkiraan penduduk DKI Jakarta menurut catatan Biro Pusat Statistik pada awal tahun 1978 sekitar 6 juta orang). Di luar Jakarta, dengan perkiraan jumlah penduduk Indonesia sekitar 130 juta orang, berarti hanya mendapatkan 1 juta suratkabar setiap harinya. Tegasnya, 1 suratkabar untuk setiap 130 penduduk. Jika dihubungkan dengan penilaian Unesco bahwa salah satu syarat kehidupan ideal adalah tercapainya 1 suratkabar untuk setiap 10 orang penduduk, maka keadaan ini baru tercapai hanya untuk masyarakat Jakarta saja. Beberapa masalah dan hambatan yang dihadapi secara nyata oleh penerbitan suratkabar daerah antara lain adalah.
* Artikel ini adalah cuplikan penulis, yang dibuat untuk mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Indonesia, 1978, dengan judul Analisa Fungsi Sosial Suratkabar Daerah dalam Pembangunan Desa. Uraian dalam artikel ini adalah suatu studi hasil penelitian tentang gambaran isi, khalayak dan tanggapan pembaca.
1 Yang dimaksud dengan suratkabar nasional adalah suratkabar yang terbit di Ibukota negara dengan sirkulasi nasional. Sedangkan pengertian suratkabar daerah ditujukan kepada suratkabar-suratkabar yang terbit di daerah dengan sirkulasi lokal. Suratkabar daerah ini terdiri atas suratkabar regional atau propinsi, yakni suratkabar yang terbit di ibukota propinsi dengan titik berat sirkulasinya di daerah propinsi; dan suratkabar daerah yang khusus terbit di daerah tingkat kabupaten/kotamadya dengan sirkulasi lokal.