Prisma

Survai | Prisma dalam Dasawarsa 80-an

Usia Prisma pada 1993 telah mencapai 22 tahun. Sejak awal sampai kini banyak persoalan yang dihadapi dan harus dipecahkan sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan Prisma. Pasang surut Prisma memang tidak terlepas dari faktor-faktor internal dan eksternal yang saling mempengaruhi. Dalam tulisan ini, R.Z. Leirissa mengulas separuh perjalanan panjang Prisma yang tampaknya dapat pula dipakai oleh sidang pembaca untuk menilai dan mengetahui lebih jauh keberadaan Prisma.

Usia 20 tahun bagi suatu majalah ilmiah, atau majalah jenis apapun di Indonesia, adalah suatu prestasi yang patut dibanggakan. Namun kalau dilihat dari jumlah oplag Prisma setiap kali terbit, muncul berbagai pertanyaan. Sejak pertama kali muncul angka-angka itu terus meningkat lebih 1.000 eksemplar (1971) menjadi 14.000 eksemplar (1977). Setelah itu terjadi fluktuasi sampai 1983 dan kemudian terus menurun drastis sampai 5.500 eksemplar di tahun 1989. Berbagai faktor bisa dikemukakan untuk menjelaskan keadaan itu. Namun jumlah oplag saja bukan menjadi tolok ukur, ada soal lain seperti fungsi majalah itu sendiri. Apakah sesungguhnya keistimewaan Prisma jika dibandingkan dengan majalah-majalah lain, bahkan majalah ilmiah lain, dan apakah penurunan jumlah oplag tersebut menjadi hambatan bagi terselenggaranya majalah yang unik ini; apa yang menjadi kendala-kendala teknis sehingga oplagnya menurun drastis dalam dasawarsa 80-an?

Majalah Ilmiah yang Khas

Ketika diterbitkan pada pertengahan tahun 1971, redaksi menjelaskan bahwa Prisma bertujuan “membiaskan” gagasan mengenai upaya pembangunan nasional kepada khalayak ramai. Berbagai pakar ilmu sosial ditawarkan untuk mempublikasikan hasil penelitian atau renungan teoretisnya mengenai berbagai aspek pembangunan yang diprakarsai atau diusulkan oleh pihak eksekutif dan birokrasi. Para eksekutif dan birokrat pun mendapat kesempatan yang luas untuk mengemukakan pendapatnya. Selain artikel-artikel ilmiah, terutama rubrik “Dialog” menyajikan berbagai masalah itu dengan cara yang sangat menarik. Pertukaran pikiran yang terbuka dan penuh tanggungjawab, kesediaan menerima kritik dan usul alternatif dikemukakan kepada pihak yang berwenang melalui rubrik itu. Ini merupakan suatu bentuk majalah ilmiah yang khas, karena pihak non-akademik atau kaum awam pun diberi kesempatan untuk bersuara.

Masalah yang paling banyak dikemukakan sejak awal sudah barang tentu menyangkut sistem ekonomi. Tetapi sistem politik juga tidak diabaikan karena mekanisme pengambilan keputusan yang efektif banyak menentukan berhasil tidaknya suatu program pembangunan. Selain itu berbagai aspek kehidupan masyarakat yang tersentuh, maupun tidak tersentuh, oleh berbagai program pembangunan itu mendapat porsi yang wajar pula. Namun sedari mula nampaknya banyak masalah-masalah kebudayaan dan hukum kurang banyak diulas. Ini bisa dipahami mengingat, antara lain, dalam tahun-tahun pertama pembangunan ekonomi, perhatian lebih banyak ditujukan pada masalah-masalah lain.

Meningkatnya jumlah oplag dalam lima tahun pertama (1971-1976) menunjuk pada efektifnya sistem komunikasi yang diprakarsai Prisma. Dalam tahun-tahun itu tidak banyak sarana komunikasi yang menyediakan informasi akademik seperti Prisma. Kenyataan bahwa golongan pembaca terbesar datangnya dari para mahasiswa dan sarjana menunjukkan bahwa ketika itu kaum intelektual Indonesia benar-benar haus akan informasi model itu. Di sini terlihat betapa sistem komunikasi sangat terkait dengan upaya pendidikan (“mencerdaskan bangsa”) yang merupakan suatu bentuk komunikasi antara kaum akademisi dan khalayak yang sangat demokratis sifatnya.

Jadilah Prisma sebagai wadah penghubung yang kritis antara dunia eksekutif-birokrasi dan kelompok-kelompok masyarakat luas. Berbagai pakar ilmu sosial, terutama ilmu ekonomi, muncul dalam majalah ini. Biodata para penulisnya, kalau disatukan, merupakan suatu ensiklopedia-biografis yang menampilkan profil intelektual Indonesia masa kini. Pemikiran-pemikiran yang muncul dalam tulisan-tulisan Prisma merupakan suatu inventarisasi yang unik dari perkembangan strategi pembangunan yang menarik. Maka tidak mengherankan kalau ada yang memanfaatkannya untuk mempelajari perkembangan teori-teori “development strategies” di Indonesia.

Keberhasilan Prisma tahun-tahun 1970-an itu antara lain juga disebabkan kepemimpinan redaksional yang penuh karisma. Nama-nama yang terpampang mewakili dunia pers mahasiswa yang pernah terkumpul dalam Harian KAMI. Nono Anwar Makarim (sampai tahun 1984), Ismid Hadad, Daniel Dhakidae, Sjahrir sudah lama dikenal oleh dunia kampus dan kaum intelektual muda pada umumnya. Mereka adalah pendukung Orde Baru yang sangat kritis yang muncul di panggung politik sejak pertengahan 1960-an. Hubungan mereka secara langsung maupun tidak langsung dengan kaum teknokrat membuka kesempatan untuk memahami perkembangan dan melontarkan berbagai masalah yang dapat ditanggapi dalam Prisma.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan