Sutami bukan hanya insinyur yang cerdas dan karya-karya tehniknya dikenal sebagai monumen proyek pembangunan yang menjadi kebanggaan nasional. Ia juga yang telah memimpin Departemen PU hingga menjadi ujung tombak pembangunan Orde Baru dalam 2 Repelita pertama, serta pemimpin departemen sektoral yang justru merintis pola pembangunan regional (wilayah) di Indonesia.
SUTAMI adalah tokoh pembangunan Indonesia yang mencurahkan hidupnya di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, namun karya-karya tehnik, kepemimpinan dan pemikirannya telah meletakkan dasar-dasar dan pola pembangunan fisik dan prasarana nasional yang dirintis pemerintah Orde Baru.
Sejak tahun 1965, pada usia 37 tahun Ir. Sutami telah diangkat oleh Presiden Sukarno sebagai Menteri Negara Urusan Penilaian Konstruksi. Namun, dalam pemerintahan Orde Baru dibawah Presiden Suharto, pada tahun 1966/67 Sutami juga terpilih sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Ampera. Sejak itu selama 12 tahun dalam beberapa periode Kabinet Pembangunan Sutami memimpin Departemen Pekerjaan Umum hingga tahun 1978; diangkat sebagai anggota MPR-RI (1977), dan kemudian sebagai anggota DPR-RI (1978) hingga wafatnya pada tanggal 13 November 1980 karena menderita sakit lever.
Tulisan ini akan mengupas peranan Sutami dalam pembangunan nasional, terutama di bidang Pekerjaan Umum, sumbangannya sebagai peletak dasar pembangunan wilayah dan kepemimpinannya dalam menjabat Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Pembangunan R.I.
Si Pendiam yang Berrotak Cerdas
Pada waktu Sri Maryati, yang kemudian menjadi isteri Sutami, akan dijodohkan dengan Sutami, dia bermimpi bertemu dengan seekor ular yang sangat besar dan diam saja. Menurut kepercayaan, mimpi itu perlambang bahwa yang bermimpi akan menemukan jodohnya yang tepat. Mungkin memang benar, karena sesudah menjadi isteri Sutami, dia mendampingi seorang manusia berkulit gelap yang berperangai diam, yang akan dikenang sebagai seorang pemimpin pembangunan Indonesia. Sutami dikenal pendiam. Seorang rekan juga menyebutnya seorang introvert. Sifat pendiam ini cocok dengan kemampuan berpikirnya dan menemukan bermacam-macam gagasan yang banyak dilontarkan dalam tugasnya melaksanakan pembangunan, dan juga dalam buku yang ditulisnya. Dia juga jarang berbicara, juga di rumah dengan keluarganya. “Paling-paling Bapak hanya tersenyum,” kenang salah seorang puterinya.
* Penulis sangat berterimakasih atas keterangan dari para Nara Sumber yang menjadi bahan yang sangat berharga bagi penulisan ini, tanpa mana penulis tidak akan mampu mengerjakan penulisan ini. Namun apabila ada kesalahan dalam interpretasi keterangan yang diberikan para Nara Sumber, hal tersebut menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis. Para Nara Sumber yang diwawancarai (menurut urutan waktu) adalah: Prof. Dr. Ir. Poernomosidi Hajisarosa (Mantan Menteri Pekerjaan Umum dan kini Direktur PT. Bina Insan Mandiri), Ir. Rudjito Dwijomestopo, Dipl. HE (Direktur Utama Perum Jasa Tirta), Ir. Soenarjono Danoedjo (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum), Drs. Lego Nirwhono (Anggota Dewan Komisaris Bank Tabungan Negara), Mutohar Sudiro (Sekretaris Departemen Pekerjaan Umum), Prof. Dr. Ir. R. Roosseno (Direktur PT Biro Insinyur Eksakta), Ir. Budiyati Abiyoga (Konsultan PT Bumi Prasidi dan Film Producer), Ir. Soefaat (Direktur PT Planars), Keluarga Prof. Dr. Ir. Sutami), Dr. Ir. Suyono Sosrodarsono (Mantan Menteri Pekerjaan Umum dan kini Anggota Dewan Pertimbangan Agung R.I.), Prof. Ir. Suryono Tjokrodihardjo, Dr. Soelistyo, Ir. Bondan Hermanislamet, Ir. Soemiarto MCP dan Ir. Gunung Rajiman (dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), Ir. Siswono Yudohusodo (Menteri Negara Perumahan Rakyat), Ir. Rachmat Wiradisuria (Direktur Utama PT Wisma Nusantara Internasional), Ir. Wonargo (Direktur Utama PT Yodya Karya), Ir. Suradi (Direktur Utama Perum Perumnas), Ir. Tjokorda Raka Sukawati (Direktur Utama PT Hutama Karya) dan Ir. Radinal Moochtar (Menteri Pekerjaan Umum).





