Bilamana ada dua orang atau dua kelompok bertengkar, sekurang-kurangnya tiga alasan bisa dikemukakan. Pertama, mereka berbeda pendapat. Kedua, mereka berbeda kepentingan. Ketiga, gabungan antara perbedaan pendapat dan kepentingan. Untuk mengatasi pertengkaran tersebut harus ada keputusan. Tetapi bagaimana cara mengambil keputusan tersebut? Juga tersedia sekurang-kurangnya dua cara mencapai keputusan untuk mengatasi pertengkaran: argumentasi atau kekerasan.
Bukan sesuatu yang niscaya bahwa yang unggul dan benar dalam berargumentasi senantiasa berada di pihak yang menang. Dengan kata lain harus ada kemampuan untuk meyakinkan dan kemampuan untuk diyakinkan pada kedua belah pihak. Jadi ada semacam sikap take and give dalam hal itu. Dan sikap inilah yang oleh Karl Popper disebut the attitude of reasonableness. Secara sederhana sikap ini bisa dirumuskan sebagai berikut: Saya kira saya benar, tetapi ada kemungkinan saya salah dan Anda yang benar; tetapi bagaimanapun juga mari kita bertukar pikiran, karena dengan demikian kita akan mendekati pengertian yang benar dan tidak hanya mengatakan bahwa kita benar. Namun argumentasi tidak bermanfaat lagi bila diskusi berlangsung dengan keris dan golok. Di sana argumentasi berganti rupa menjadi kekerasan.
Ada sikap rasional lain yang menurut Popper salah dan berbahaya yaitu yang bersandarkan utopia di mana sudah suatu tujuan akhir yang tak tertawarkan. Ke sana langkah diarahkan. Semua alat harus mengabdi kepada tujuan akhir tersebut. Jalan ke sana tidak senantiasa licin. Kekerasan biasanya lahir di situ, karena tentang tujuan akhir tidak ada argumentasi. Karena itu bisa dipahami bila inilah tujuan akhir, maka untuk mempertahankan ketenangan dan ketertiban kekerasan bukan tabu. Dan tentang apa tujuan ketenangan dan ketertiban tertutup peluang berargumentasi.
Banyak utopi ditemukan dalam gerakan kaum tani. Salah satu bentuknya adalah paham yang disebut millenarisme. Di sana ada janji-janji tentang tata hidup yang tenteram di mana sungai dan gunung mengalirkan susu dan air madu: Bila tiba waktunya maka tidak akan ada pertengkaran lagi, tidak ada penderitaan dan ketidakadilan; rakyat akan dibebaskan dari pajak, dan tugas-tugas paksaan lainnya; tak ada penyakit dan pencurian; setiap orang akan memiliki rumah dan rumahnya adalah damai. Namun bersiaplah menghadapi bencana yang menyongsongnya. Hadapilah hujan es dan api bercampur darah. Dan kaum tani bersiap-siap menyongsong zaman tata tenteram itu, meski sebelumnya harus berkorban nyawa.
Menurut jalan pikiran di atas, alam pikiran semacam ini utopis sifatnya. Namun Gerakan Samin adalah bukti baliknya. Mereka sangat rasional dalam berpikir. Mereka mengajukan pertanyaan waras meski keluar dari alam berpikir sederhana: Mengapa saya harus membayar pajak? Kalau pemerintah memerlukan uang dan saya berkelebihan, maka akan saya berikan; tetapi saya sendiri menentukan berapa jumlah yang dapat saya berikan… Mengapa negara membebani pajak atas tanah, melarang saya ke hutan atau melarang saya memakai air? Karena, lemah pada duwe, banyu pada duwe, kayu pada duwe, tanah milik semua, air milik semua, dan hutan milik semua orang? Ada yang beranggapan ini adalah semacam sistem komunisme primitif. Tetapi sebenarnya bukan, karena orang Samin sangat sadar akan hak miliknya sendiri.
Argumentasi sederhana dari orang sederhana jarang menang bertarung pendapat. Rakyat berusaha untuk meyakinkan pihak lain tentang haknya namun yang terjadi sebaliknya. Namun bila argumentasi telah mati, maka lahirlah kekerasan. Dan tercatatlah di tahun 1933, 45.000 pelanggaran terhadap hutan menurut catatan pemerintah kolonial. Para pejabat hutan dikeroyok rakyat ramai-ramai. Di tahun 1979, 593 kasus tanah yang mencapai puncak di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Di sana terjadi pembakaran dan pengrusakan. Di sana hilang batas yang membedakan siapa paling berani: yang wanita atau lelaki.
Rakyat pada dasarnya rasional. Kekerasan hanya lahir bila argumentasi telah mati. Kata Karl Popper mereka utopis, karena itu salah, karena itu berbahaya; tetapi menurut logikanya mereka rasional, karena dalam alam pikiran rakyat tanah adalah segala-galanya. Tanah telah dikucuri peluh dan darahnya. Demi tanah segala dikorbankan termasuk nyawanya. Di titik di mana argumentasi mati atau dimatikan di sana kekerasan mulai, karena baginya kekerasan adalah kelanjutan argumentasi.
Di dunia kayangan tersenyum seorang yang terbungkus dalam kain kafan putih. Dia anti kekerasan. Namun dia berdiri dalam barisan rakyat karena dia juga pernah mengatakan di bumi: Bila hanya tinggal kemungkinan yaitu memilih antara menjadi pengecut atau memakai kekerasan, saya anjurkan pakailah kekerasan. Dan dia bernama Mohandas Karamchand Ghandi sang Mahatma.