Prisma

Tanah Kita, Hidup Kita

Pendekatan Budaya Melanesia dalam Rangka Krisis Ekologi Global

Hubungan manusia dan alam semakin renggang. Semua unsur alam tidak lagi diperlakukan sebagai sesama ciptaan yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Krisis ekologi global yang terjadi tidak hanya menimpa alam, tetapi manusia pun ikut sengsara terutama mereka yang berada di Dunia Ketiga. Dengan memadukan pendekatan antropologi dan ekologi, tulisan ini berupaya melakukan terobosan dalam bidang Teologi dengan mengangkat prinsip dan nilai-nilai budaya Melanesia di Irian Jaya. Prinsip-prinsip yang ada membuktikan bahwa kearifan budaya Timur dapat menjadi kontribusi lokal bagi upaya terciptanya transformasi relasi manusia dan alam.

Tatkala manusia semakin maju secara gemilang karena ilmu-pengetahuan-teknologi yang merupakan ciri hidup manusia moderen, maka harga yang dibayar untuk itu ternyata mahal. Mahal, karena tangan manusia terpaksa menjamah alam ini dengan paksa tanpa belas kasihan. Hubungan manusia dan alam ini sudah tidak lagi akrab. Tanah, air, hutan, udara, ikan, margasatwa serta semua unsur alam tidak lagi diperlakukan sebagai sesama ciptaan yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Manusia merasa dirinya sebagai satu-satunya makhluk yang tercipta untuk menguasai dunia ini tanpa batas.

Hubungan seperti ini telah mendatang-kan penderitaan bagi alam. Lalu manusia menjadi sadar dan prihatin, bahwa krisis yang menimpa alam ini menjadi kian dahsyat. Terjadilah apa yang disebut “krisis ekologi global.” Krisis ekologi global itu tidak saja menimpa alam ini, tetapi manusia pun ikut sengsara. Sayangnya yang menjadi korban dan yang lebih menderita karena perilaku tersebut adalah manusia yang hidup di Dunia Ketiga. Tulisan berikut ini merupakan suatu kajian Teologi Lingkungan dengan mengacu kepada perspektif budaya dan agama adat Melanesia di Irian Jaya. Studi ini merupakan perpaduan antara pendekatan Antropologi dan Ekologi. Ini merupakan suatu upaya penerobosan dalam bidang Teologi, dengan mengangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai budaya Melanesia di Irian Jaya. Prinsip-prinsip tersebut telah menjadi bukti, bahwa kearifan budaya Timur dapat menjadi kontribusi lokal bagi upaya terciptanya transformasi relasi manusia dan alam.

Transformasi Relasi Manusia dan Tanah

Manusia dan alam adalah satu kesatuan ciptaan, yang memiliki keunikan masing-masing, tetapi tidak dapat hidup terpisah, tanpa hubungan yang abadi. Masih terdapat perbedaan pemahaman dan tafsiran tentang hubungan seperti ini. Thomas Sieger Derr, misalnya, berpendapat bahwa soal relasi manusia-alam dalam kebudayaan tradisional memiliki relasi yang bersifat mitologis-magis.1 Hubungan mempersonifikasikan alam, yakni jarak pisah antara manusia dan alam sulit dilakukan. Segala hal ihwal menyangkut manusia, selalu dihubungkan dengan unsur-unsur alam tertentu. Dia juga menilai bahwa pihak Barat telah kehilangan dimensi semacam ini. Karena bagi mereka manusia dianggap berdiri pada satu jarak yang jauh dari alam ini. Manusia Barat memiliki semacam mitologi yang mengangkut manusia dan semua hasil ilmu pengetahuannya. Di sana alam adalah obyek yang dikuasai demi kepentingan manusia dan masa depannya.

Syukurlah bahwa kecenderungan seperti ini tidak dibiarkan begitu saja oleh orang seperti Lynne White.2 Pakar sejarah asal Amerika Serikat ini tampil dengan pandangan kritis bahwa Barat telah memainkan peran yang menjadi sebab musabab terjadinya kerusakan atas lingkungan hidup global. Teknologi Barat menjadi alat yang sangat

ampuh dalam pengrusakan alam secara kasar. White mengajak semua orang untuk melihat bagaimana Industri dan Teknologi telah menjadi senjata pamungkas yang memporakporandakan alam tanpa berkesudahan. White mengatakan bahwa akar-akar terjadinya kerusakan lingkungan, disebabkan oleh pandangan yang menempatkan alam sebagai obyek eksploitasi manusia. Dibutuhkan pembebasan atas lingkungan dari cengkeraman tangan manusia. Pembebasan atas ekologi juga dianjurkan oleh Thomas Sieger Derr.

White lalu menuding tradisi Yahudi Kristen sebagai pihak yang sangat bertanggungjawab atas kerusakan alam ini. Karena dalam kedua tradisi itu manusia diberi peranan dan kedudukan yang begitu tinggi. Manusia dapat saja menguasai alam, mengelolanya demi kepentingan manusia. Dengan harga dirinya sebagai Imago Dei (gambar Allah), manusia dengan sombong menguasai alam. Alam adalah subordinasi dari manusia. White pada akhirnya mengacu kepada gaya hidup Santo Fransiskus dari Asisi. Seruan Asisi ialah agar manusia kembali hidup ramah dengan alam. Pendekatan Asisi ini merupakan alternatif yang harus diikuti oleh manusia masa kini. Seruan demikian didasari atas tafsiran baru tentang ciptaan Allah, bahwa manusia dan semua unsur-unsur alam mempunyai hubungan spiritual yang erat. Sama seperti batu yang merupakan simbol keperkasaan Allah, dan bunga sebagai simbol kecantikan Allah, maka manusia pun merupakan gambar Allah yang utuh, baik laki-laki maupun perempuan.

Bilamana terjadi transformasi relasi di antara semua unsur-unsur ciptaan itu, maka akan tercipta harmoni. Ada keadilan dan perdamaian. Yang satu tidak lagi menindas dan mengeksploitasi yang lain. Manusia akan memperlakukan alam ini dengan penuh kearifan. Ada seleksi dalam membangun alam. Manusia boleh memakan ikan, tanpa harus membunuh semua plankton dengan mendinamit ikan dan rumahnya. Manusia boleh saja menebang pohon untuk kepentingan pembangunan sosial ekonomi, tanpa harus membabat seluruh hutan rimba yang terbentuk ratusan tahun lamanya. Sumber mineral dapat dieksploitasi, tetapi tidak harus menghancurkan seluruh ekosistem sungai, lembah gunung dan laut di sekitarnya, dengan ribuan “pasir sisa.” Teknologi harus bisa menciptakan suatu proses yang menyembuhkan luka-luka alam yang ditimbulkan oleh pembangunan itu sendiri.


1 Sieger Derr Thomas, Ecology and Human Liberation, A Theological Critique of the Use and Abuse of Our Birth Right (Geneva: WCC, 1978), hal.8-11.

2 Lihat Lynn White, “The Historical Roots of our Ecological Crises,” dalam Science, 155, March 1967 yang dimuat dalam Louis Pojman, Environmental Ethics (Boston, London: John and Barttled Publisher, 1994), hal. 124.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan