SAYA tidak mempunyai keberatan terlalu mendasar atas komentar yang diberikan Saudara Dita Indah Sari terhadap esai saya di Prisma yang berjudul “Gerakan Buruh dalam Sejarah Politik Indonesia.” Hampir seluruh komentar Saudara Dita menunjukkan usaha yang serius untuk memikirkan masalah-masalah yang berhubungan dengan gerakan buruh dalam sejarah Indonesia, maupun dalam situasi kontemporer, serta semangat yang terpuji untuk “meluruskan” hal-hal yang menurutnya “salah” pada esai saya tersebut. Walaupun tentunya, komentar balik saya ini, pada gilirannya, juga ditujukan untuk “meluruskan” hal-hal yang menurut saya masih keliru dalam tanggapan Saudara Dita itu.
Dalam tanggapannya, Saudara Dita telah menyinggung beberapa persoalan yang memang menarik untuk dikaji kembali, khususnya tentang sejarah gerakan buruh di Indonesia pada masa perjuangan nasional. Misalnya, ia mengungkapkan kembali kritik yang pernah dilontarkan Komintern terhadap Partai Komunis Indonesia tahun 1920-an yang dianggap terjangkit “infantile leftism” (ke-kirian yang kekanak-kanakan) karena melihat tahap perjuangan nasional sebagai “jalur cepat” menuju sosialisme (dengan gerakan buruh sebagai instrumennya). Sedangkan kebijaksanaan Komintern sendiri waktu itu terhadap kemunculan gerakan antikolonial di negeri-negeri Dunia Ketiga, seperti Hindia Belanda, didasarkan pada tesis revolusi dua tahap: revolusi nasional yang kemudian diikuti oleh revolusi sosialis. Seperti diulas secara sangat baik dalam sebuah karya yang ditulis Ruth McVey kira-kira 30 tahun yang lalu, karena itu gerakan buruh di Indonesia sempat dianjurkan untuk bekerjasama dengan kaum borjuis kecil untuk memenangkan revolusi nasional.
Ada sedikit kerancuan dalam argumen Saudara Dita tentang kekeliruan gerakan buruh di Hindia Belanda pada tahun 1920-an. Menurut Saudara Dita, kalau saya tidak salah mengerti, seharusnya gerakan buruh pada waktu itu menyadari bahwa “basis material” dalam “perjuangan pembebasan nasional adalah seluruh rakyat jajahan yang tertindas melawan penguasa kolonial dan feodal yang masih bercokol.” Saya tidak tahu apakah Saudara Dita menyadari bahwa justru posisi ini yang dianut oleh Semaen, misalnya, yang beranggapan bahwa kolonialisme telah memproletarkan seluruh rakyat Indonesia karena menindas semua orang dengan cara yang sama. Sehingga, berbeda dengan ortodoksi Komintern pada waktu itu, menurutnya revolusi nasional Indonesia sekaligus adalah revolusi proletar.