Setelah Perang Dunia II–terutama di dalam dasawarsa enampuluhan–negara-negara industri di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat berhasil mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa pesatnya. Ini disebabkan terutama karena di negara-negara tersebut tersedia cukup modal, teknologi dan ketrampilan (managerial skill) yang merupakan penggerak daripada pembangunan dan kemajuan ekonomi. Di samping itu kondisi perdagangan internasional sangat menguntungkan kedudukan negara-negara tersebut, karena tata ekonomi dari masa sebelum Perang Dunia II masih berlaku.
Sekalipun setelah dekolonisasi telah muncul banyak negara merdeka dan berdaulat di Asia dan Afrika, namun konstelasi ekonomi negara-negara tersebut tidak banyak berubah dari keadaan sebelum kemerdekaan. Negara-negara itu tetap menjadi supplier bahan-bahan mentah dan merupakan pasaran dari barang-barang industri. Bahan-bahan mentah dan komoditi lainnya dibeli oleh negara industri dengan harga yang sangat murah sementara negara-negara berkembang harus membayar mahal untuk membeli hasil-hasil industri. Timbullah suatu kepincangan yang bertentangan dengan keadilan sosial. Negara-negara industri dengan modal, teknologi dan keahlian manajerial ditambah dengan kekuasaan yang besar dalam perdagangan internasional, menjadi sangat kaya. Sebaliknya negara-negara yang sedang berkembang yang tidak memiliki modal, teknologi dan kemampuan manajerial terpaksa menjual bahan-bahan mentah dan komoditinya dengan harga murah tetap saja miskin. Jurang antara negara-negara industri dan negara yang sedang berkembang makin melebar yang pada akhirnya menimbulkan pertentangan-pertentangan yang biasa disebut sebagai pertentangan-pertentangan antara Utara dan Selatan.
Banyak pemimpin-pemimpin dari negara-negara sedang berkembang memajukan pandangannya bahwa keadaan yang tidak seimbang ini bertentangan dengan keadilan sosial dan martabat negara-negara sedang berkembang dan karenanya, tidak dapat lebih lama dipertahankan. Rasa tidak puas ini makin menjadi-jadi karena Dasawarsa Pembangunan PBB yang pertama dan kedua tidak berhasil mencapai sasarannya.