Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan 25 Tahun*
Tulisan ini membicarakan bagaimana teknologi, sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi, harus ditebarkan dan dimanfaatkan secara luas dalam proses produksi sebelum dapat dimanfaatkan secara efektif. Diulas pula berbagai penelitian tentang pendidikan di negeri-negeri industri yang berhasil memanfaatkan teknologi. Dalam hal ini manfaat yang bisa diambil adalah begitu Indonesia membuka diri terhadap teknologi yang lebih baru, permintaan akan tenaga kerja berpendidikan menengah dan tinggi yang berkualitas akan meningkat pesat.
TULISAN ini mencoba mengulas berbagai penelitian tentang penyebaran pendidikan dasar yang memperlancar diseminasi dan pemanfaatan teknologi secara produktif, dan tahap berikutnya mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Diuraikan pula implikasi globalisasi dan sifat pengaruh teknologi baru terhadap permintaan akan tenaga kerja terdidik. Akhirnya diketengahkan implikasinya bersama data yang tersedia mempengaruhi sistem pendidikan yang telah ditetapkan untuk 25 tahun berikutnya.
Konsep “teknologi moderen” yang dipakai begitu luas, tidak terbatas pada ilmu pengetahuan alam atau teknik, yang memang penting, tapi memasukkan pula pengertian teknologi moderen yang diperlukan bagi penataan produksi yang efisien dan ilmu pengetahuan berkenaan dengan makhluk hidup serta ilmu-ilmu sosial yang menggunakan metode ilmiah, pengembangan database, pengujian hipotesa, dan pemecahan masalah. Misalnya, dengan 55% pertumbuhan GNP dalam pertanian, sumbangan ilmu
hayat dan ekonomi pertanian terhadap jenis teknologi yang digunakan dalam pertanian moderen dan banyak usaha berskala kecil serta menengah yang mempekerjakan tenaga kerja dengan jumlah cukup banyak di daerah perkotaan atau pedesaan tetap vital. Contoh lainnya, termasuk keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk menata serta mengelola bisnis moderen dan industri (akuntansi, pengelolaan sistem informasi, pengawasan mutu, pemasaran, dan strategi keuangan), keterampilan menata dan menjalankan program-program pemerintah (pelatihan guru, kependudukan, penggunaan komputer secara ekonomis), dan keterampilan berbagai pelayanan yang lebih padat modal manusia (kedokteran, perlindungan lingkungan, kesehatan masyarakat). Konsep teknologi moderen juga tidak terbatas pada pendidikan kejuruan tingkat menengah (STM), meskipun pendidikan ini diperlukan. Kemitraan pemerintah dan swasta dianggap sebagai satu sarana yang dapat mengantar pengenalan teknologi baru,1 dan jenis-jenis pendidikan yang membekali siswa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi. Karena itu perhatian tulisan ini tidak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada penggunaan teknologi secara efisien dan saling ketergantungannya dengan pendidikan.
Tulisan ini melihat persoalan dari sudut pandang sistem pendidikan dan analisa proses pertumbuhan ekonomi, erat kaitannya dengan dua tulisan lain yang mengulas topik dan tiba pada kesimpulan serupa. Pertama, Hal Hill mengembangkan jenis-jenis kebutuhan untuk memperkuat pendidikan sebagai alat kebijakan kunci bagi kebijakan teknologi, juga sebagai alat kebijakan Penelitian dan Pengembangan (R&D) berdasarkan kebutuhan pasar dan pemakai.2 Wardiman Djojonegoro menampilkan data perbandingan kekurangan ilmuwan dan ahli tehnik di Indonesia.3 Dia menawarkan juga rencana rinci kemitraan STM dengan dunia industri yang bergerak di bidang pelatihan keterampilan teknik kejuruan berdasarkan pengalaman keberhasilan Jerman yang menerapkan sistem berganda (Dual System).
Diseminasi Teknologi dan Pertumbuhan Produktivitas
Pada dasarnya para ekonom mengakui perubahan teknologi, melalui alih teknologi maupun penciptaan teknologi baru, sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Dengan menggunakan metode perhitungan pertumbuhan, Denison menganalisa kontribusi kuantitas pendidikan persekolahan terhadap pertumbuhan akan meningkatkan kualitas tenaga kerja.4 Dia menemukan 21,5% pertumbuhan pendapatan nasional per orang yang bekerja di AS periode 1948-1973 adalah karena pendidikan. Pendidikan memberikan kontribusi persentase positif terhadap pertumbuhan pendapatan per orang sejak 1973 sampai kini, meskipun terdapat dampak negatif pertumbuhan selama 1973-79 karena guncangan minyak dan 1981-83 akibat resesi. Tapi di luar ini, analisa “residual” Denison mempertimbangkan efek pencangkokan teknologi baru dalam modal manusia (human capital) dan modal fisik (physical capital). Hampir semua pencangkokan teknologi berlangsung melalui pendidikan formal dan belajar dari pekerjaan, meskipun pada tingkat tertentu cara terakhir sangat tergantung pendidikan formal sebelumnya, umum atau kejuruan, dengan asumsi pendidikan formal mengajarkan huruf, bilangan, dan pemikiran rasional. Berarti peningkatan kualitas pendidikan dan teknologi bersama-sama menyumbang sekitar 50% pertumbuhan ekonomi AS. Bahkan dalam periode panjang, persentase pertumbuhan ekonomi yang disebabkan perubahan dan alih teknologi, sebagian besar dilakukan melalui pencangkokan modal manusia dan modal fisik sekitar 40%.
* Tulisan ini diterjemahkan oleh Bambang Indriyanto hasil ringkasan artikel “Technology and Human Capital Formation: Implications for Indonesia’ 25 Year Education Goal,” dalam Boediono, Walter W. McMahon, Don Adams (eds.) Education, Economic, And Social Development, Vol. 1, (Jakarta: Pusat Informatika Balitbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992) hal. 135-153.
1 Wardiman Djojonegoro, “Education and Industrial Productivity,” makalah untuk konferensi di Medan, BPP Teknologi, Jakarta, 5 Februari 1992.
2 Hal Hill, “Indonesia’s Industrial Technology Capability: Past Experience and Policy Options for the 1990’s,” Draft report, Australian National University, September 1991.
3 Wardiman Djojonegoro, loc. cit.
4 Edward Denison, “Accounting for Slower Economic Growth: An Update,” dalam John Kendrick (ed.) International Comparisons of Productivity and Causes of the Slowdown (Cambridge, MA: Ballinger, 1984), hal. 1-45.