Prisma

Teknologi Pangan untuk Pembangunan Desa

Sebagian besar pengeluaran rumahtangga Indonesia dibelanjakan untuk pengadaan pangan. Namun, sejak puluhan tahun belakangan ini, Indonesia harus mendatangkan beras dan gandum serta beberapa bahan pangan yang lain dari luar negeri. Sejak Pelita I, sekitar 5 sampai 10% dari kebutuhan beras untuk pangan masyarakat Indonesia, didatangkan dari negeri lain.

Pangan juga merupakan sumber nafkah yang memberikan penghasilan utama bagi jutaan petani di Indonesia. Dalam deretan bahan pertanian yang dihasilkan produsen dalam sektor pertanian, pangan menduduki urutan tertinggi sebagai penghasilan masyarakat. Hampir semua petani produsen pangan itu bermukim di desa-desa yang lebih dari 50.000 jumlahnya, tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Petani produsen pangan itu banyak yang miskin. Umumnya mereka merupakan golongan yang terendah pendapatannya dalam masyarakat di wilayahnya. Menurut perkiraan para ahli ekonomi pertanian dan pedesaan, ada wilayah yang lebih dari separuh penduduk desanya, hidup di bawah garis kemelaratan1 apabila garis kemelaratan itu diukur dengan tingkat pendapatan yang senilai dengan sejumlah 240 kg beras per orang per tahun.

Karena itu, demi pencukupan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia, serta guna meningkatkan pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia di desa-desa yang tergolong paling miskin, maka produksi pangan harus ditingkatkan. Dalam usaha peningkatan produksi pangan yang sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan golongan miskin di desa-desa, teknologi pangan memiliki peranan yang penting.

Uraian mengenai teknologi pangan dan pembangunan desa harus dikaitkan dengan ulasan dasar yang menyangkut berbagai jenis teknologi pangan dan penerapannya guna pembangunan desa, struktur dan masalah utama produsen pangan di pedesaan serta kebijaksanaan pembangunan yang menangani penerapan teknologi guna peningkatan produksi pangan dan pembinaan desa.

Berbagai teknologi pangan

Teknologi pangan menurut bentuk fisiknya, dibedakan atas dua jenis, yaitu teknologi hayati kimiawi, serta teknologi mekanis. Termasuk ke dalam teknologi hayati kimiawi adalah benih unggul, pupuk buatan, pestisida2 serta segala jenis sarana produksi moderen yang berdasar pada proses-proses ilmu hayat dan ilmu kimia. Sedangkan dalam pengertian teknologi mekanis, dapat dikelompokkan segenap alat dan mesin pertanian untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi pertanian, mulai dari traktor mini untuk pengolahan tanah yang sederhana sampai traktor panen lengkap (combine harvester) yang secara terpadu menuai padi-padian hingga keluar sebagai karung-karung butiran gandum dan padi atau jagung.

Umumnya, teknologi hayati kimiawi diterapkan untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya alam dalam proses produksi pangan. Lazimnya, teknologi hayati kimiawi, memerlukan pemanfaatan tenaga manusia yang lebih banyak dan yang lebih terampil. Karena itu, penerapan teknologi hayati kimiawi dilaksanakan di daerah-daerah yang sumberdaya alamnya terbatas. Teknologi hayati kimiawi bersifat padat karya dan sesuai dengan kebijaksanaan perluasan kesempatan kerja. Intensifikasi tanaman pangan dalam bentuk program Bimas dan Inmas adalah sebuah contoh yang nyata dari teknologi hayati kimiawi.


1 Dapat disebutkan di sini misalnya tulisan klasik dari Masri Singarimbun dan David Penny, Penduduk dan Kemiskinan, (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1976), maupun tulisan-tulisan Prof. Sajogyo dan Mubyarto di dalam berbagai nomor Prisma yang terdahulu

2 Pestisida adalah istilah teknis yang meliputi segenap obat-obatan untuk memberantas hama dan penyakit tanaman.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan